cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Tampilkan postingan dengan label lagi mood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagi mood. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Oktober 2017

karya terakhir di KSL

Dewi Kecantikan yang Malang


“Pergi, Kau, dasar makhluk jalang!”                                                                                             
Argh!!
Aku mengaduh kesakitan. Tendangan Bapak paruh baya itu tepat mengenai perut kempesku. Aku segera pergi dari depan tokonya. Membawa rasa sakit yang belum pulih. Membawa luka bakar yang melepuh basah tak kunjung kering.
Tubuhku lemas. Dengan langkah gontai kupaksakan terus melangkah ke toko rempah-rempah. Karena hanya Paman pemilik toko rempah-rempah di belokan ujung jalan sajalah yang menerimaku dengan baik dan ramah, bahkan aku sering kali mendapatkan makanan darinya meski keadaanku sekarang seperti ini, tidak seperti Bapak pemilik toko pernak-pernik yang tadi aku kunjungi.  
Belum sempat aku sampai di toko rempah-rempah, ia mendatangiku. Ia yang mengaku sahabat baikku. Sedangkan ia pula yang membuatku seperti ini. Angin. Ya, Angin yang mendatangiku. Ia tersenyum tipis, menyapa, sementara aku berjalan tak acuh padanya.
“Malang nian nasibmu. Mana kecantikan yang dahulu engkau banggakan?”
Ia meliuk perlahan mengitariku. Aku tak tahan, rasanya ingin kutangkap saja dirinya. Menyiksanya sehingga ia tahu betapa sakitnya memiliki luka di sekujur tubuh. Aku muak melihatnya, kenapa tak pergi saja kau dari hadapanku?Aku bahkan tak dapat membedakan, salah atau benarkah kamu? Kemudian ia menelusup di sela-sela telingaku. Meniup-niup luka basah di sekitar kening. Perih.
Ia terus mengolokku. Seperti saat aku mengolok kawan-kawanku dulu. Ini semua yang harus aku tuai setelah apa yang aku tanam. Teringat beberapa hari sebelum kejadian itu terjadi, semua terasa seperti biasanya. Orang-orang di sekitarku terasa ramah dan menyenangkan. Aku selalu jadi pusat perhatian, karena jalanku yang anggun dan rupaku yang menarik. Bahkan mereka bilang aku cantik.
Jumat pagi ini begitu tenang. Beberapa lantunan ayat suci terdengar dari menara-menara masjid yang menjulang tinggi. Aku berjalan pelan, menghirup udara pagi yang sejuk, menapaki trotoar abu-abu pekat basah tersiram air. Jalanan di pasar Khan Kholili selalu ramai, apalagi di hari libur seperti ini. Pasar Khan Kholili merupakan pasar tradisional favorit para pelancong, yang banyak menyediakan pernak-pernik khas Mesir. Nama Khan Khalili sendiri berasal dari nama Khan, yang berarti tempat penginapan para pedagang. Penginapan-penginapan tersebut dimiliki oleh seorang pedagang muda yang yang bernama Khalili. Begitulah aku mendengarnya dari Paman pemilik toko rempah-rempah saat ia berbicara dengan salah satu mahasiswa asal Indonesia. 
Memori sebelum semua ini terjadi kembali berputar. Di sini, dipasar ini, aku merasa layaknya bak seorang putri raja. Lihatlah Paman penjual papyrus dan hiasan khas Mesir di muka jalan, yang selalu memanjakan dan mengelus daguku pelan! Juga tingkah lucu Pak tua penjual parfum yang selalu antusias menungguku menyambangi tokonya. Ada pula Bapak berjenggot lebat pemilik toko besar yang berjualan seprai, sarung bantal, dan handuk yang selalu mempersilakanku tidur di salah satu kursi empuk wangi miliknya.
Dan yang lebih membuatku seolah menjadi wanita paling beruntung, aku dapat duduk di pangkuan salah satu ulama besar ketika halaqah atau pengajian berlangsung. Karena rasa sayangnya beliau padaku, membuat aku terkenal dalam sekejap. Murid-murid beliau berebut menggendongku, dan banyak juga yang meminta untuk berfoto bersamaku. Sanjungan dan pujian seketika merubahku. Bagai bara api yang menyala kecil, kemudian perlahan semakin besar, lalu membakar segala sesuatu yang ada di sekitar. Aku seakan menjadi api yang menakutkan. Seakan menjadi Dewi Kecantikan.
Kenyamanan akan semua sanjungan seolah merubahku menjadi makhluk angkuh nan sombong. Itu semua sebelum aku sadar, bahwa kecantikan hanya titipan. Ketika kecantikan itu hilang, maka aku bukan siapa-siapa lagi. Kecongkakan yang ada dalam diriku seakan seperti daging yang tumbuh, semakin hari semakin menjadi. Decak kagum orang-orang ketika melihat kecantikan yang aku miliki, membuatku memandang segala sesuatu tak ada yang lebih baik kecuali diriku seorang. Lalu aku mulai mencemooh dan mengolok-olok setiap orang yang lebih buruk dariku. Sampai akhirnya aku mulai mendewakan diriku sendiri di hadapan penyanjung kecantikanku.
                                                               ***
Entah darimana aku bisa bersahabat dengan Angin. Mungkin karena sepi kerap menemani hari-hariku. Hanya Anginlah satu-satunya yang setia menemani. Persahabatan kami semakin dekat karena Angin pun menyukai parasku yang menawan.
Terkadang ia meniup-niup bulu kecil di keningku, menggoda dan berbisik pelan di telinga, “Kau terlalu cantik untuk menjadi wanita kecil yang kesepian.
Aku hanya tersipu malu.
Ia selalu menyapa dengan kesejukan. Ada banyak moment bersamanya yang tak terlupakan. Seperti ketika ia sedang menjailiku. Ia melambaikan bulu mataku yang panjang dan lentik. Membuatku menutup mata secara spontan saat berlari, kemudian menabrak tembok keras di ujung jalan tak bercabang tanpa sengaja. Rasa sakit karena menabrak tembok tak kuhiraukan, yang ada saat itu kita hanya tergelak. Tertawa bersama. Tertawa akan persahabatan yang membingungkan. Kadang kita marah tanpa alasan, dan kita tak butuh alasan pula untuk kembali berbaikan. Persahabatan terasa indah saat itu.
“Wanita kecil cantikku, apa yang membuatmu bahagia?”
Angin mulai bertanya ketika tawa lepas kami tiba-tiba terhenti. Aku menatapnya. Ia kembali berembus meniup wajahku. Aku merasa seakan-akan hawa sejuk masuk menembus setiap inci dari pori-pori kulitku.
“Hentikan meniup-niup wajahku! Kau bisa membuat kulitku kotor nanti. Bukankah debu selalu bersamamu, bagaimana jika jerawat tiba-tiba muncul di wajahku? Aku akan terlihat kusam dan tidak menarik nanti!! ucapku jengkel saat itu.
“Tak ada yang menandingi kecantikanmu wanitaku. Kau tak perlu takut, lihatlah di sepanjang pasar ini, tak ada yang lebih cantik darimu. Mereka tak lebih hanya makhluk-mahluk kotor yang liar. Mengemis makanan seperti sampah.
Bisikannya jelas terdengar. Mendentumkan jantungku, dan aku mulai menyeringai.
“Aku tak suka mereka. Mereka selalu berebut makanan yang aku saja tak sudi untuk memakannya. Kasihan juga sih, melihat mereka seperti itu. Sementara diriku, dengan pesonaku, aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, tidak seperti mereka yang harus mengemis dahulu agar bisa makan. Dan bahkan mereka adalah pemakan sisa bagianku.
Tidak ada yang berubah dari percakapan kami. Angin terus menyanjungku dan aku terus membanggakan kecantikanku. Seperti bagaimana orang-orang di sekitarku yang hanya sibuk menikmati paras cantik dan senyum manisku. Tanpa mereka sadar, bahwa mereka adalah salah satu korban yang tertipu dan diperbudak oleh keindahan diriku semata.
Bisikan-bisikan angin yang berdengung di telinga kadang membuatku begah. Tapi tak dipungkiri, aku terhanyut tak sadarkan diri, membuat setiap apa yang ia sanjung benar adanya. Aku terperangkap oleh pujianya. Pujian yang membuatku terlena, yang dapat merubah kepribadianku saat itu. Entah bagaimana aku bisa memulai memupuk egoku menjadi semakin keras. Bagai pasir yang mulai mengendap sedikit demi sedikit, berkumpul dan saling terekat, bahkan semakin banyak dan mengeras.
Selama bertahun-tahun aku hidup selalu dengan sanjungan. Semua orang memperlakukanku dengan baik. Semua orang menyukaiku bahkan kadang mereka memelukku gemas. Sampai pada akhirnya, ada satu malam yang membuat hidupku berubah. Satu malam yang mengubah takdirku menjadi seperti saat ini. Seharusnya aku lebih memilih untuk tidur beralaskan kursi wangi di toko Bapak berjenggot lebat. Tapi saat itu angin menemuiku, berkali-kali membisikkan agar aku ikut bersamanya.
“Wanitaku, datanglah, akan aku tunjukan dunia.
“Apa yang ingin kau tunjukan?”
Ia tak menjawab, hanya senyum tipis yang kudapat.
Dengan langkah sedikit malas aku mengikutinya. Angin membawaku ke pelataran depan pasar Khan Khalili. Ada beberapa petak rumput berpagar hijau mengitari di sekeliling pelataran tersebut. Beberapa toko teh dan syisha dipenuhi orang-orang yang sekedar bersenda gurau, ada juga yang hanya menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. Lalu di sana aku melihat ada dua orang kakek tua renta yang masih terlihat bugar bermain catur. Aku duduk di salah satu trotoar yang berpagar hijau itu. Angin terus tersenyum padaku. Tapi kali ini senyumnya berbeda, ada firasat tidak enak yang tiba-tiba aku rasakan. Entah apa, yang jelas aku tak ingin berburuk sangka untuk malam itu.
Tak lama kemudian, dentuman musik khas mulai terdengar. Semua orang yang duduk berdiri berdendang dan bergoyang seirama dengan thor, rebana Mesir. Ada yang hanya menyaksikan dengan menepuk-nepuk tangan. Ada juga yang antusias ikut menari. Angin menunjukkan padaku dunia para manusia di malam hari. Sebenarnya aku tidak tertarik, aku masih mengantuk dan ingin segera pulang. Tapi Angin terus menahanku.
 Sampai akhirnya malam semakin larut. Aku yang duduk menopang dagu dengan tangan, menunggu Angin mengajakku kembali pulang. Tetapi tanpa kusadari, Angin tak ada di tempat. Aku menunggunya. Lama aku menunggu, yang ditunggu tak juga kunjung datang. Aku mencoba mencarinya, tapi nihil, aku tak bisa menemukannya. Kuputuskan untuk segera kembali ke toko Bapak berjenggot lebat. Ternyata tokonya sudah ditutup, dan jalanan mulai sunyi, tak ada lagi orang yang berlalu-lalang. Rasa kantuk tidak bisa lagi aku tahan, aku melihat beberapa kardus kosong berserakan ditinggalkan oleh orang-orang yang entah saat itu ada di mana. Aku memutuskan untuk tidur di sana, merebahkan kepala yang sudah terasa berat, larut dalam malam yang mulai gelap dan pekat.
Uhuk! Uhuk!
Sakit di tengorokan mulai terasa. Asap tebal membuat dadaku sesak. Aku terbangun. Dan aku kaget bukan main, ada api di mana-mana. Pandanganku tertutup asap. Aku berlari menghindari api, ada sesuatu yang jatuh dan mengenai tubuhku. Aku berteriak kaget mengerang kesakitan. Tubuhku terbakar. Aku berlari mencari genangan air yang mungkin bisa memadamkan api yang kini membakar tubuhku. Kugulingkan badan, berdiam sebentar, kemudian mulai bangkit meski kaki terasa sakit. Mungkin aku terkena sesuatu saat berlari tadi.
Api mulai berangsur padam. Beberapa orang berlarian, saling bantu membantu memadamkan kebakaran di salah satu toko, yang mana pelatarannya adalah tempat aku tertidur. Gelap sudah membiru, kini matahari mulai timbul. Pasar kembali ramai, bukan ramai karena aktifitas seperti biasanya, tapi ramai untuk melihat puing-puing toko yang hancur terbakar.
Luka ini semakin parah. Luka bakar ini kini mulai mengeluarkan bau. aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya seekor kucing berbulu putih, yang jika matahari pagi tak sengaja menyinari diriku, setiap ujung bulu putihku akan menampakkan warna perak. Orang bilang aku indah. Tapi lihat, sekarang bulu itu terbakar nyaris gundul. Ada beberapa luka di bagian tubuh. Aku merasa begitu kotor dan kumal.
                                                               ***
Aku mencoba mendatangi satu persatu barisan toko yang biasa aku kunjungi. Tak ada satu pun yang mau menerimaku. Berbeda dengan dahulu, ketika aku masih memiliki bulu putih yang bersih, mereka menyayangiku, menggedong dan memelukku. Tak jarang aku tertidur di pangkuan mereka saat mereka mengelus-elus daguku. Namun kini mereka mengusirku, dan bahkan tak mengenali rupaku. Parahnya lagi, ada beberapa di antara mereka yang mengusirku secara kasar.
Aku tidak dapat menggambarkan kesedihanku saat ini. Angin juga meninggalkanku, yang sebelum pergi, ia tersenyum tipis dan melambaikan tangannya padaku. Entah apa maksudnya. Aku terus berjalan gontai, hingga sampai di ujung jalan sebelum belokan. Aku berhenti. Di hadapanku ada sebuah toko rempah-rempah dan seorang lelaki. Wajah lelaki itu begitu menenangkan. Aku masih ragu untuk mencoba masuk dan meminta belas kasihnya untukku.
Toko sepi! Ini saatnya aku masuk, gumamku senang seraya memasuki tokonya.
Aku mencoba menaiki beberapa tumpuk karung beras seperti biasa. Agar dia bisa melihatku.
“Paman, coba lihat aku, aku adalah kucing cantik yang biasa kau gendong dan menaruhku di atas mejamu. Kau tak pernah lupa memberikanku semangkuk susu dan makanan jika aku datang menyambangimu. Paman, biarkan aku mengelus manja tangan kekarmu, walau aku tahu, kau mungkin tak sudi lagi menyentuhku. Karena sekarang aku berubah menjadi makhluk menjijikkan. Dengan luka-luka ini mungkin kau akan membuangku seperti paman-paman yang lainya. Ini semua ulah Angin paman. Aku membencinya, amat membencinya. Pagi ini saja, dia datang menemuiku, mengejeku dengan pertanyaan bodohnya. Paman, aku tertipu olehnya ternyata ia hanya jelmaan Iblis yang menghasutku. Dia bukan sahabat yang baik. Pertama aku kira semua perkataanya benar, tapi ternyata pujianya adalah racun bagiku. Lihat kini, tak ada satu kucing pun yang mau berbagi makanan denganku karena kesombongan yang aku bangun dengan sanjungan. Harusnya dari awal aku lebih mawas diri, tidak terjebak oleh bisikan jahatnya. Malam itu dia hmenjebakku, Paman. Menjebakku agar keluar rumah dan tidur di jalanan. Aku tahu, dia yang menyebabkan kebakaran itu, karena dalam kobaran api aku lihat dia ada di sana, tertawa bagai Iblis yang menyeringai. Pagi ini  saja, dia datang lagi, memastikan apakah aku menderita atau tidak. Tolong aku, Paman!”
 Aku ceritakan semua yang terjadi. Ia menatapku lembut. Mana mungkin ia mengerti apa yang aku ceritakan, mungkin baginya aku hanya mengeong seperti biasanya. Lalu ia kembali tertunduk untuk menulis sesuatu. Entah apa yang ditulisnya, yang jelas itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku bahwa lelaki itu tak mengenaliku dan tak menginginkan aku ada di tokonya. Maka, sebelum ia menyuruh petugasnya untuk mengusirku, aku segera melompat turun. Dengan kaki yang pincang aku terus berjalan menuju pintu keluar.
Sebenarnya, lelaki itu adalah harapan terakhirku. Rasa kecewa juga sedih kembali aku rasakan. Aku berjalan tertatih dan tak tentu arah. Matahari seakan mendukung untuk menghukumku karena kesombongan dan keangkuhanku. Mungkin, setelah ini matahari akan tertawa lepas bahwa sekarang tak ada yang bisa aku banggakan untuk diriku sendiri. Aku tertunduk, semua terasa asing bagiku.
Drap! Drap! Drap!
Ada suara langkah kaki di belakangku. Seketika ada yang mengangkatku. Aku sangat mengenali jari-jemari kekar ini. Ya, lelaki berwajah menenangkan itu, Paman pemilik toko rempah-rempah.
“Sudah kukatakan dahulu, jangan bermain dengan Angin. Ia jahat, ia hanya jelmaan Iblis yang ingin menghancurkanmu!” seru Paman pemilik toko rempah-rempah, berbicara padaku sembari mengelus kepalaku pelan. Aku terkejut, kaget bukan main. Tercengang. Benarkah ia mengerti ceritaku tadi? ***


Senin, 14 Oktober 2013

my drawing again...



Senin, 30 September 2013

my drawing... :)




Sabtu, 28 September 2013

memory


Jumat, 27 September 2013

education...


Jumat, 06 September 2013

Bakso gami


Kamis, 09 Februari 2012

my note for SNSD (lomba menulis note)




Lomba yang pertama kali aku ikutin mudah mudahan isengan tulisan aku yang berubah jadi pengalam pertama ikut lomba buat note gak terlalu mengecewakan untuk di baca, apapun hasilnya nanti semua hanya untuk bahan latihan sampai mana kemampuanku dalam menulis, Bissmillah.

"fil fil bi kam ya a'mu?" seruku seraya menunjuk tumpukan cabe di hadapanku
"isrin" seru penjual sambil melengos acuh
Ada yang bilang pelayanan di Mesir memang kurang, apalagi untuk urusan jual beli, kadang mereka terlampau kasar saat melayani pembeli, mungkin hal ini bukan hanya aku yang merasakan beberapa teman teman dari asia yang kebanyakan kulturnya lembut lembut merasa kecewa dengan sikap mereka, tak jarang kami urung memasuki toko toko besar karna hanya akan membuat hati kami kecewa dan kalau sedang apes bisa bisa kami tidak di layani sama sekali, tapi rasa kecewaku sirnah begitu saja saat mendengar harga cabe di pasar lonjak drastis yang biasanya kami beli 7-10 Pound Mesir menjadi 20 Pound,dalam hati aku berkata apakah krisis sudah melanda Mesir setelah Revolusi yang terjadi tahun 2011 kemarin, revolusi itu terjadi tepatnya pada tanggal 25 januari 2011 dimana demonstran besar besaran terjadi di seluruh Mesir menuntut agar presiden Husni mubarak turun setelah menjabat 30 tahun lamanya,setelah masyarakat Mesir demonstrasi selama 18 hari di lapangan tahrir square akhirnya presiden Husni mubarak mundur pada tanggal 11 februari 2011.

Teringat kembali pada tahun 1998 saat itu Indonesia mengalami hal yangg sama seperti mesir, Revolusi terjadi untuk menggulingkan pemerintahan presiden kedua Indonesia yaitu Soeharto, tidak banyak yang berbeda dari kondisi mesir saat ini yang aku rasakan bagaimana krisi moneter terasa perlahan lahan setelah Revolusi terjadi, padahal saat itu aku baru duduk di bangku SD (sekolah dasar) tepatnya kelas 6 SD biasanya aku bisa menghabiskan uang saku yang di beri ibuku Rp.1000 per hari untuk membelikan berbagai jenis jajanan di sekolah, aku bisa mendapatkan beberapa jenis jajanan 5 atau 6 jenis, bahkan sesaat pulang sekolah aku bisa menabung di celengan plastik biru berbentuk kelinci, tapi setelah krisis uang Rp.1000 habis begitu saja hanya untuk membayar transportasi bulak balik dari rumah ke sekolah belum lagi jika aku malas berjalan masuk komplek rumah dan memilih untuk naik beca.

Belum jelas sebab yang aku ketahui mengapa harga permen kesukaanku yang biasa aku bayar RP.25 untuk satu permenya menjadi RP.100 untuk satu bijinya, yang aku tahu saat itu presiden Soeharto mundur dari kursi kekuasaanya karna demonstran yang dilakuka oleh para mahasiswa di Jakarta,setelah beberapa berita dari televisi dan kabar dari ayahku baru aku tahu ternyata Indonesia Krisis dan membuat semua harga harga melonjak naik, tak ada lagi subsidi pemerintah untuk bahan makanan pokok dan BB hanya untuk mempertahankan nama seorang pengusa yang haus akan kekuasaan, semua di lepas begitu saja membiarkan Indonesia mandiri untuk bisa merangkak maju dari keterpurukan Krisis finansial yang membuat Ekonomi Indonesia melemah dan ketidak puasan masyarakat akan kepemimpinan Soeharto yang menjanjikan kemakmuran tetapi masyarakat tetap hidup dalam garis kemiskinan yang meningkat,bukan hanya itu tenyata setelah turunya Soeharto, Indonesia di tinggalkan hutang yang banyak bak gunung gunung tinggi di kepulauan sumatra dan kalimantan, semua itu membuat rakyat Indonesia semakin merasakan perihnya hidup.

Sekali lagi aku menghela nafas panjang, aku termenung dan teringat bagaimana saat pertama kali datang untuk menuntut ilmu dari para guru guru besar di negri ini tepatnya di universitas Al Azhar dimana aku bisa belajar ilmu agama lebih di sana, setelah satu hari penerbangan pesawat Emirates menurunkanku di kota seribu menara ini, beberapa kakak kelas menjemputku di bandara Internasioal Cairo,dalam perjalanan menuju flatku aku melihat susunan susunan kubik kubik bangunan yang berjejer sepanjang jalan "ini mesir" desisku dalam hati, seketika sampai di tempat yang mereka sebut akan menjadi rumah perjuanganku di Mesir ini kuhirup udara Mesir perlahan dan dalam,pandangan pertama pada Mesir dan udaranya membuat aku jatuh cinta, walau banyak dari teman teman yang merasa kecewa akan bagian Mesir yang mereka rasa tidak seperti apa yang mereka bayangkan sesaat di tanah air.

Aku berhenti dari lamunanku kuraup beberapa potong cabe dan menaruhnya di atas wadah timbangan si A'mu penjual sayur,"rub' ya a'm" seperempat cukup untuk satu minggu ini pikirku lalu ku tarik lembaran lima pound Mesir dengan mengucap bismillah aku berikan kepadanya dengan harapan Mesir semakin membaik keadaanya, karna aku sudah jatuh hati dengan kota ini dengan beragam orang asing yang aku temui, dengan panasnya terik matahari ketika aku puasa ramadhan, dan dinginya air di kamar mandi saat aku berwudhu di musim dingin, dengan teriak triakan kernet tramco yang yang tak pernah aku pahami apa yang dia katakankan, dengan senyum ikhlas para dukturah dukturah kuliah di Universitas AL Azhar, dengan omelan ablah di asrama ketika kumenaruh cucian baju kotor yang menumpuk dan aku sembunyikan di bawah kasurku, dengan debu debu di atas kumpulan buku buku tebal berkertas kuning yang tak pernah kosong di atas mejaku semua membuatku jatuh hati pada negri ini.

tidak ada yang bisa aku lakukan untuk negri ini, negri yang telah membuatku jatuh hati hanya ada doa terselip di setiap shalatku agar Mesir tetap aman dan keaadaanya membaik, agar mesir mendapatkan pemimpin yang bijaksana dan adil kepada semua masyarakatnya, dan dapat memulihkan finasial negara yang menurun saat ini. Bagaimana Indonesia tiga belas tahun yang lalu kini sudah satu tahun Mesir setelah revolusi seperti bayi yang berusaha tumbuh merangkak dan bangkit untuk bisa berjalan sediri begitulah Mesir, mudah mudahan tidak ada lagi tangan tangan penguasa yang serakah akan kursi kekuasaan, tidak ada lagi niat niat pemimpin yang salah dalam mengemban pengabdian padahal tanpa di sadari semua di pertanggung jawabkan nanti di sisiNYA, walau hanya sebiji beras yang masuk kedalaam perut jika disana ada hak orang lain yang harus dipertanggujawabkan dan akan di pertanyakan nantinya, dan mudah mudahan kita sebagai penerus bangsa kelak apapun nantinya yang akan kita emban sebagai rakyat biasa atau pengusaha mudah mudahan selalu dalam koridor yang benar dan selalu berada dalam lindunga Illahi Rabbi. amin ya rabbal alamin.





My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template