cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Jumat, 22 November 2013

Ashabu Mar

Hidup selama 6 atau 4 tahun bersama, menurutku bukan waktu yang sedikit. Kebersamaan dengan 200 orang lebih, hanya ku rasa di pondok Madani, meminjam istilah pondoku yang di namai oleh bang Ahmad Fuadi di buku Lima Menaranya. Walau kami kadang hanya satu kamar, atau satu kelas, satu kepramukaan, satu dapur, bahkan satu grup di kegiatan ekstra kulikuler. Semua terasa berwarna, terasa menyenangkan. Melihat dari berbagai suku dan bangsa dalam satu tujuan yang sama, yaitu lulus sekolah. ha ha..

Ada beberapa mitos dari kanan dan kiri, bahkan setelah di pertegas kembali oleh pimpinan pondok, di tambah lagi dari bukti nyata, bahwa tidak mudah lulus dari pondok Madani. yang nyata ialah pertama masuk pondok, jumlah pelajar yang ada saat itu berjumlah 500 orang, lalu dari tahun ketahun waktu bergulir, jumlah kami menyusut yang lulus dari pondok madani hanya 200 orang lebih, entah kemana setengah pelajar lainya, yang jelas perjuangan untuk lulus sudah di buktikan oleh pondok Madani tercintaku, bukan hal yang mudah.

Oke, kita skip beberapa tahun, yang aku sebut sebagai tahun adaptasi. Tidak mudah bagi cewek cengeng sepertiku, untuk menghadapi semua perkara sendiri. ohh... dan aku benci harus bercerita, bahwa ibuku menginap untuk menungguiku setengah semester di tahun pertama. Cukup memalukan, tapi semua terasa berbeda, saat akhirnya aku terbiasa dengan yang namanya kemandirian. Berjuang memperebutkan kursi kelas terbaik, sudah menguras semua pikiran dan perasaanku saat itu. membuatku lupa dengan istilah tidak betah dan ingin pulang. 

Kau tahu siput, itulah aku. Berteman bertahun tahun dengan angin malam, di bawah sinar rembulan dan satu jug kopi, otak siput ini, hanya menghasilkan bangku di kelas tengah. Bangku kelas terbaik hanya di huni oleh orang orang excellent dengan otak turbo. Menghapal pelajaran dengan teriakan kencang bak serigala melolong di tengah malam, tidak dapat mengalahkan mereka yang hanya menghapal dengan suara siulan, bahkan tak bersuara. 

Kelas terbaik, selalu menjadi pusat perhatian bagi kami. Ada beberapa keuntungan disana, seperti bisa menjadi staff apa saja yang kita mau, menjadi anggota pengurus pusat, menjadi utusan perlombaan di dalam dan luar pondok, dan keuntungan lainya. Tapi dari semua itu ada yang lebih utama, yaitu bisa satu kelas dengan Ashabu Mar. Awal mula Ashabu Mar terbentuk hanya dari keisengan teman temanku, karena si empunya ranking satu dan terpintar di angkatan kami berinisial Mar, sebut saja namanya Martini. Dan ternyata di dalam kelas terbaik bukan hanya di huni oleh Mar si rangking satu saja, ada Mar yang lainya, seperti Martina, Marpaung, Marlisa dll.

Dengan adanya ashabu Mar, kelas terbaik bisa di anggap kelas terkeren. Faktanya ashabu Mar juga aktif, di beberapa bidang esktra kulikuler. Di akademis mereka memukau, di kepramukaan mereka bersemangat,
ah.. andai aku bisa mengganti namaku saat itu menjadi "Marcenit", mungkin aku bisa menjadi salah satu ashabu Mar. Berjalan di jalan Nusantara dengan seragam pramuka berlencana penghargaan bejibun menempel di tangan kanan. Berjalan depan kamar pengurus pusat, dengan baju dinas saat jam pidato malam berlangsung karena harus mengurus kru Malda, salah satu grup menulis yang keren. JMK, komunitas pidato terbaik sepondok. atau JMQ, komunitas qori' yang sudah mengutus anggotanya berlomba keluar negri. 
ya... hayalan selalu memenangkan hatiku, setidaknya bukan untuk mengutuk diri atau sekedar mengulur iri hati, tapi sebagai satu titik cahaya, yang aku namai cahaya Harapan.

"woi.. ngelamun, ayo ikut solat sunnah hajat. minggu depan ujian" 
Martini, menepuk pundaku. Kebetulan aku sembahyang di sampingnya tadi, aku senyam senyum sendiri, setelah akhirnya berkata pada diriku sendiri.

"ya aku memang bukan ashabu Mar, di akademisi, tapi aku tetap salah satu anggota ashabu Mar di pertemanan angkatan kami"

Setelah ku sadari, ilmu yang bermanfaat adalah kelulusan yang terpenting dari semua pencapaian di kursi kelas terbaik. ashabu Mar boleh jadi hanya patokan standarisasi tertinggi yang harus aku capai. Tapi tetap faktor pemicu utama untuk mewujudkan Marcenit, yaitu diriku sendiri. Tidak jarang manusia otak siput sepertiku, bisa dan mampu untuk lebih baik. semua bisa terjadi jika Allah menghendaki. Bahkan di sela sela tomat busuk yang membuat rugi pak petani, bisa jadi tumbuh tunas pohon tomat yang kelak akan subur, dan berbuah lebat. karena di setiap harapan yang ada dalam diri manusia, pasti ada jalan di sana.

just positive thinking, do the best, and let the rest to God.
-winter nash city, cairo-
      cenit suryana.
Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template