cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Tampilkan postingan dengan label ikan asin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan asin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Ingin maraton tanpa di kejar anjing.

Memulai kembali, hanya ingin bercerita, suatu saat nanti entah kapan, aku yakin tulisan ini akan ku baca ulang, setidaknya untuk mengingat kembali, atau jikalau ingatan ini sudah tak bisa ku putar kemasa silam, tulisan ini yang akan menjaganya.

Sedikit tau, ada perkataan dari orang barat, yang mengatakan bahwa sukses hidup itu berada di tiga hal: 

1. Di saat tua nanti, bercocok tanam, atau mengurusi ladang, pertanian sendiri.
mengapa demikian? karena, saat seseorang di masa tuanya bertani, berarti sudah lepas dari kesulitan kehidupanya, dia hanya menikmati masa tuanya tanpa menjadi pegawai, bos, atau apapun yang tergantung atau di gantungi nasib orang lain.
2. Di saat seseorang sudah bisa menulis biografi dirinya sendiri.
3. Di saat seseorang sudah, mempunyai keturunan.

Tersenyum simpul dengan perkataan di atas, aku bersyukur, karena Allah meanugrahiku ni'mat, yang tiada duanya, yaitu ni'mat Islam, di lahirkan dengan islam, dari berojol sampe sekarang aku islam, bahkan kata kata di atas sebenarnya, sudah aku pelajari sejak KMI (setaraf SMP-SMA), dari hadist Rasulullah SAW, berkata " Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau Anak shaleh yang mendoakannya"
 HR Muslim

Di praktekan oleh imam imam sholih kita, dengan mencari ilmu yang bermanfaat, di pelajari oleh murid muridnya, sampai akhirnya tertulis kemudian biografi sang imam. adapun orang barat pernah mengatakan, dalam tulisanya "We never die", atau "we are imortal", kita tidak akan mati, kita abadi, yang mengatakan bahwa dengan mempunyai keturunan, kita hidup selamanya, karena kita mewariskan 80%-60% gen2 yang kita miliki kepada anak anak kita kelak, dari sifat, wajah, sampai kebiasaan, semuanya menurun kepada anak kita, maka diri kita sendiri tidak akan mati, karena hidup dalam bagian bagian anak kita, dari situ mereka berpendapat bahwa kita akan selalu hidup, dengan pandangan dan pemahaman demikian mengekehkanku, dan sedikit berpikir.

Stop curhat, sekarang mulai bercerita dari judul yang aku tulis diatas, kali ini gaya bahasaku agak monoton,mungkin aku kehilangan selera santaiku, mulai ke arah bahasa kaku, bahasa bahasa yang aku temukan di majalah TEMPO, koran REPUBLIKA, Buku SINDO, sampai buku IPA&IPS Tut wury handayani, yang semua tulisan kadang aku tidak mengerti, mengapa bisa sesangar dan seseram itu mereka menulis?.

Mengapa tidak ada kata santai sejenak, setelah tanda koma, bukankah tanda koma mempunyai arti, berhenti sejenak di saat membaca untuk sekedar bernafas, sampai aku menemukan dunia hitam di atas putih yang menarik bagiku,mudah aku pahami, dan tidak membuatku bosan, yaitu sebuah buku berhalaman putih judulnya aku lupa, yang aku ingat hanya ceritanya, cerita tentang wanita yang mempunyai kepribadian ganda, dari situ aku mulai menyukai membaca buku serial tentang kehidupan, buku selanjutnya juga buku yang marak di perbincangkan saat itu, "A Child called it" karangan Dave pelzer, buku ini menceritakan tentang kehidupan anak kecil yang di siksa oleh kedua orang tua kandungnya,

Dari sana aku menemukan, bahwa tulisan yang menarik bagiku adalah tulisan tentang kehidupan, kehidupan seseorang, siapapun itu pasti menarik, sekali lagi aku mengernyitkan dahi, mencoba memaksakan diri melihat koran Republika, atau koran Jawa pos, dan koran lainya, ku tengok kolom berita pembunuhan, berceritakan inisial S.M.I (seorang PRT), yang akhirnya aku tau nama aslinya sukmi, karena di beritakan di TV, membunuh anak majikanya, bukankah ini cerita tentang kehidupan?, tapi mengapa aku tidak menemukan ada bahasa santai di sana, yang ada hanya metode penulisan menurut ilmu jurnalislah, penulisan yang harus memperhatikan tatanan binomial-lah, Penyebutan autoritaslah, tatanama trinomial-lah, dan lainya yang aku temui dari sedikit membaca buku buku cara menulis, yang sempat aku beli.

Untuk memperjelas aku bukan tidak menyukai, para penulis disana, bukankah mereka menulis dengan ilmu dari bangku perkuliahan dengan pengajar terkemuka, mereka memakai kaidah EYD penulisan bahasa indonesia yang baik pula, berjibaku dengan deadline dan sensorisme (bahasa sendiri, sensor) dari para editor, karena bagiku menulis adalah alasanku untuk bebas, bebas menentukan kata yang ku suka, bebas mau berjelajah kemana saja dengan pikiranku sendiri, bebas menemukan cerita menarik dari kehidupan.

Kini beranjak ke cerita, lima belas tahun silam, badan kecil dan kurus tidak menjadi penghalang bagiku untuk menyukai hari kamis, kaos ungu dengan perpaduan merah tua di sisinya, adalah seragam kebanggaan yang harus aku kenakan ke sekolah hari itu, kala itu kelas kami pindah, bukan di dalam petak ruangan sempit, dengan bangku bangku kayu berjejer rapih di sana, tapi di halaman belakang sekolah, yah hari ini adalah hari olahraga, aku menyukainya tapi tidak dengan teman sebangkuku, namanya Yenyen, dia anak terpintar dan tercantik di sekolahku, tidak tahu anugrah darimana aku bisa menjadi teman sebangkunya, menjadi rangking pertama dan juara umum, bukan hal yang sulit baginya, tapi tidak untuk pelajaran olahraga, seperti dia yang selalu memperlihatkan nilai 10 di setiap kertas ujianya, aku juga mempertunjukan kepadanya, bagaimana aku bisa menyentuh lutut lututku dengan hidungku saat itu, dan aku bisa melompat lebih tinggi darinya, juga bagaimana aku berlari lebih cepat darinya, sampai saat itu, bapak guru olahraga memasukanku ke dalam grup pemain baseball yang rata rata pemainya adalah anak laki laki, dalam hati piciku berkata kepadanya,

"kau lihat aku si rangking 8, tapi rangking selangit di hari kamis"

Itulah kesan lima belas tahun kebelakang, dengan berjalanya tahun, kini ku jejaki kaki, dan mulai tumbuh, bukan anak kecil dengan badan mungil lagi, bukan si krenyit dengan rambut merah dengan urat urat halus yang terlihat di setiap kulit wajah dan tangan lagi. sedikit cerita konon dulu mamaku melahirkanku di bulan ke-enam lebih delapan hari, mungkin jika kelak aku menjadi pejabat kelurahan akan ku tambah keterangan di tanggal dan bulan akte kelahiranku, 6 Agustus dengan lahir kecepetan.

Dunia KMI (setara SMP dan SMA) masa masa baru bagiku, kota berbeda, dengan teman teman yang berbeda pula, aku masih terus menyukai pelajaran olah raga, aku mulai mengenali pelajaran baru selain Basseball, dimana aku harus menggerakan kepala, tangan, dan kaki, dengan gerak gerakan yang sudah di atur dengan sedemikian rupa, agar gerakan gerakan itu bisa di praktekan dan di tiru olehku, semua itu bernama SKJ.

Aku duduk di atas rerumputan, mulai terdiam, sedikit kaget, bahkan bisa di bilang shock bagaimana bisa aku menari dengan gaya robot itu, bahkan gerakan gerakan itu lebih kaku dari tari dangdut, tapi terlalu lincah untuk tari piring, mugkin SKJ lebih simple dari basseball, karena tidak memakan waktu banyak, atau mungkin anak anak perempuan disini pobia bola, tak ada satupun pelajaran olahraga menggunakan alat olahraga, semua terasa terlihat malas hanya memanfaatkan seluruh anggota badan untuk bergoyang goyang bak bebek, dan jika kita tak bergoyang bagian olahraga, siap meniupkan peluit sampai kuping terasa panas, aku benci terjebak dalam keadaan ini, dan bayangkan untuk menselaraskan gerakan tangan dari kanan dulu baru kekiri saja aku tidak bisa, pasti gerakanku berlawanan. tapi aku tak boleh menyerah, sampai akhirnya, aku maju untuk pemilihan senam Porseni, dimana jika aku terpilih aku bisa ikut grup Porseni dan tampil di depan direktur sekolahku saat itu, well done gerakan tak selaras, ayunan tanganku mirip penari ondel ondel dengan kostum norak saat itu cukup membuatku tidak di lirik oleh kakak kelas yang bertugas menyeleksi anggota senam Porseni, kebingunganku membedakan mana yang tangan kiri dan kanan, juga kaki kiri dan kanan membuahkan keputus asaanku.

Dengan tidak mengikuti kursus sore olahraga pada setiap tahun,membuatku terpuruk cukup lama, padahal bisa saja bergabung dengan grup basseball, atau basket, atau bulu tangkis jika aku mau.
lupa dengan olahraga, aku mulai mencari hal menarik lainnya, namanya kini PASKIBRA (pasukan pengibar bendera), aku melihat barisan serempak dengan gagah menapaki tanah, mendongkah ke langit, dan pikirku saat itu, dengan menjadi PASKIBRA aku bisa melatih kebingunganku membedakan kiri dan kanan bisa terjawab, karena setiap kakak kelas Paskib, nama panggilanya, latihan dengan meneriaki arahnya, seperti saat melangkah mereka berteriak,

"Kiri kanan, kiri kanan, kiri".
"aku harus jadi PASKIBRA" desis ku dalam hati.

Tidak mudah persyaratan penyeleksian paskib, itu yang aku terima dari teman, saat aku mengutarakan niat menjadi paskibra, aku hanya bisa duduk di atas rumput, di tempat terakhir kali aku meninggalkan Olahraga, berpikir sejenak dan akhirnya aku harus mencoba, ada waktu setaun sampai aku bisa mengikuti seleksi paskibra, saat itu aku melihat kakak kelas yang melatih paskibra, rata rata  mereka dari bagian Koordinator (bagian kepramukaan di sekolahku saat itu), tanpa pikir panjang aku segera berlari ke gedung Pramuka, di sana aku melihat ada rutinitas yang sama sekali baru aku lihat, dengan cermat kakak kakak kelas di depanku menalikan tongkat panjang dengan tali satu persatu membuat Pionering (salah satu kreatifitas kepramukaan, seperti menalikan tongkat tongkat panjang satu sama lain, dan menjadikanya tiang bendera), aku mulai belajar dunia selanjutnya yaitu PRAMUKA, aktif di Pramuka, menjadi anggota kesayangan di kepramukaan, membuatku terpilih menjadi barisan pembawa bendera, barisan kedua setelah barisan PASKIBRA, dengan tinggi hanya 151cm.

Kebingunganku masih menjalari setiap urat urat tangan dan kakiku, kanan dan kiri masih menjadi teka teki bagiku, sampai akhirnya aku memutuskan, memakai tali sepatu berbeda saat latihan, untuk mengatasi kebingunganku, sepatu kaki kanan dengan tali sepatu berwana merah dan kiri berwarna putih. sempat kakiku di tendang keras kakak pelatih saat, memulai langkah baris berbaris dengan salah kaki, air mata yang bergelantungan di pipi karna tangisku saja tak sempat ku usap, tapi semenjak itu, semenjak aku menjadi anggota barisan pembawa bendera, aku bisa membuktikan pada diriku sendiri, aku bisa melawan kekuranganku, dan aku mampu.

Beranjak dewasa, lupa dengan Olahraga dan ke-Pramukaan, tidak mematok untuk hal apa yang aku bisa, tapi membiarkan diri melakukakan, apa yang bisa aku coba, aku bisa SKJ atau senam semauku, tanpa menyelaraskan gerak kanan kiri ala berti levi di laptopku, aku bisa berolahraga tanpa atau dengan bola semauku, dan juga aku bisa lari pagi menembus dingin pagi, dengan angin yang bercampur debu pastinya. tapi sayang ada kendala, aku terlalu takut kini untuk sekedar lari pagi, karena pagi hari di mesir lebih banyak di penuhi oleh anjing anjing, dan para manusianya lebih memilih berselimbut ria di balik kapuk kasur yang empuk di rumahnya, kadang serasa Ingin maraton tanpa di kejar anjing.

Sabtu, 01 September 2012

say YES tuk pujian NO tuk rayuan (quotes 2/9/12)


Kadang tak banyak kata yang terucap, aku hanya mendelik dengan manyunan khas agar dia paham aku marah, lalu hanya ku dapati senyum simpul tanpa kata kata, saat tiba di asrama kediamanku aku sudah senyum sumringah, hatinya berbicara.

"aku bertemu denganmu sudah merasa tenang, jika aku banyak bicara mengganggu ketenanganku, maka dari itu aku lebih memilih diam jika bertemu denganmu".

Aku tak memilih jatuh sesudah terbang tinggi, karena saat aku terbang tinggi di situlah aku dapat melihat pemandangan indah dari atas sana, yang tak dapat aku pandang di daratan, aku bisa melihat ujung muara air sungai yang jernih, dan ada juga taman bunga yang berwarna warni, pepohonan yang rindang nan hijau, juga padang rumput terhampar luas.

"HEIII!!" temanku menepuk bahuku.
aku terperanjat melihatnya sekejap, lalu kembali tersenyum sumringah.
"aahh...kamu orang lagi terbang, ciuuuuutttt.....Braakk!! jadi jatoh nih" sambil mempraktekan dengan tangan seperti yang sedang terbang tiba tiba jatuh terkapar di tanah.

Tak banyak yang aku bicarakan dengan sobat yang menyapaku tadi, dia hanya kebingungan dan kembali dengan urusanya sendiri, mungkin dalam hatinya bergumam "ni anak kesurupan kali ya?", aku tak peduli, yang terpenting saat ini oleh oleh berupa senyuman sumringah masih saja melekat di bibirku, pujian? benarkah wanita harus hidup dengan pujian, mungkin bisa di ibaratkan jika wanita tanpa pujian itu seperti ikan kekurangan air, akan menggelepar gelepar kesesakan tak bisa bernafas dan bisa mati, itu hanya pendapatku, tapi mungkin berbeda dengan pendapat wanita lain, pernah aku melihat serial sinetron ramadhan betajuk "Para pencari tuhan" dalam ceritanya, pemeran yang bernama Azzam yang mempunyai istri dan ibunya, dalam keseharianya hanya memuji wanita (yaitu istrinya dan ibunya) bahkan wanita yang dekat dengan keluarganya pun sering di puji terjadilah percakapan.

"Zam, bisa nggak sehari kamu nggak muji perempuan" sang istri mulai komplen.
"nggak bisa" jawabnya dengan sedikit tersenyum.
"kenapa?"
"karena wanita di ciptakan untuk di puji, lihat saja jika wanita sedang bercermin pasti dia berkata pada cermin, wahai cermin siapa yang paling cantik di dunia ini? lalu cemin menjawab, Kamu!, nah....seperti itulah bagaimana wanita memuji dirinya sendiri selalu merasa cantik"

Mungkin cerita pendeknya seperti itu, tanpa aku tahu detail salah atau benar skrip percakapan di atas, karena aku bukan sutradara sinetron yang banyak mendapatkan perhatian warga Indonesia, khususnya yang beragama Islam, karena acara tersebut hanya tayang di bulan ramadhan, maka dari itu benar dan salahnya wanita dengan pujian aku tidak tahu, yang hanya aku rasa tanpa pikiran, aku senang di puji, karena topeng yang aku kenakan tak sia sia, dan juga sedikit merefresh otak dari kehidupan yang mulai aku sadari butuh perjuangan yang bukan ringan aku hadapi, di dalam pujian ada sedikit keringanan untuk meyakinkanku aku dapat jalani semua tahap kehidupan tanpa tekanan.

Bagaimana Allah swt, memuji satu golongan yang beriman di dalam Al-qur'an, dan mencela satu golongan lainya, karna pujian kadang bisa menjadi motivasi dan kadang juga bisa menjadi sindiran, dan semua itu kembali lagi pada si empunya hati, bagaimana menyikapi pujian, cobalah untuk memuji seseorang maka akan ada hal positif yang kau dapatkan.

say YES tuk pujian NO tuk rayuan.
nb : nyapa teman teman semua, semangaattt selalu!!!!!!




Selasa, 28 Agustus 2012

Backpacker (Singapore)


Pengalaman memang luar biasa, nikmat ini aku syukuri terlebih dahulu karna Allah memberikan kesehatan padaku setelah perjalanan yang luar biasa, sudah hampir dua minggu aku terpesona oleh kota dan makanan yang ada di Malaysia, negri yang terkenal dengan menara kembarnya, tak terasa sudah hampir 30  hari aku di negri ini agar aku bisa merasakan hari raya iedh fitri di Malaysia ayah dan ibuku menyarankan untuk memperpanjang visa stay yang hanya di berikan 30 hari oleh petugas imigrasi, mungkin hanya membayar 100Rm atau sama dengan Rp 280.000,. lalu ibuku berceletuk iseng berkata.

"Nit dari pada mama bayar visa, mending kamu pergi ke Singapore pake kereta, balik lagi ke malaysia dapet visa stay 30 hari lagi"

Dari situ aku memulai perjalanan dengan hanya bermodal uang kurang lebih 200 dolar singapore, ato sama dengan Rp.1.400.000 untuk tiga orang, aku, ayahku dan saudaraku sepakat, kita hanya menggunakan bis dan kendaraan umum layaknya turis turis dari barat yang sering kita sebut " Backpaker", bermula dari membeli tiket di stasiun KL Kuala lumpur, kita bertiga menggunakan kereta malam  (Senandung Sutra) menuju Singapore, mungkin saat itu kita kurang beruntung karena kehabisan kereta malam tempat tidur, dengan tekad kuat kita meneruskan perjalanan dengan menggunakan kereta senandung malam (KTM) biasa, sesampainya di dalam kereta kita menduduki kursi nomor 8A,8B dan 8C, dan ternyata saat kereta berjalan, baru kami sadari si kereta berjalan mundur, karena kursi dari 1- 8 menghadap ke belakang saat kereta menuju Singapore dan kursi nomor 8-16 mengarah ke depan.

Itulah mengalaman bagi kami bertiga, dan mudah mudahan dapat membantu teman teman yang punya niat backpacker dari Malaysia ke Singapore untuk memilih tempat duduk nomoer 9-16 agar tidak berjalan mundur, dengan harga murah tentunya perorang harga tiket 35Rm atau Rp.98000 jika duduk, dan 40Rm atauRp.112.000  jika tidur, dan bersyukurnya kami karena tiket kembali Singapore-Malaysia dapat gerbong tempat tidur, gerbong berisi dua kursi yang saling berhadapan dan di alaskan tempat tidur kecil, ada di bagian bawah dan atas, dan di setiap tempat tidur ada kain yang menutupi seperti hordeng jendela,dan kitapun dapat tidur sepanjang perjalanan dengan nyenyak.

Kereta senandung sutra dari Malaysia berangkat sekitar pukul 22:00 malam, dan tiba pagi hari di Singapore sekitar pukul 06:00 dini hari, ada yang mengatakan bahwa Imigrasi terketat di seluruh dunia adalah singapore, itu aku rasakan saat tiba di Keimigrasian Singapore, berbekal dari note seseorang di internet aku, ayahku dan saudaraku di beri saran agar berpenampilan bagus, karena kadang Imigrasi tidak mau menerima orang asing yang berpenampilan berantakan, jika ada, mungkin banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh pihak Imigrasi, dari mulai berapa jumlah uang yang kita punya untuk menjamin masuk ke Negri yang indah dengan patung Merlion berbentuk kepala singa dan berbadan ikan ini, dan pagi itu adalah pagi yang penuh berkah karena di bulan penuh berkah pula, aku hanya di berikan pertanyaan singkat.

"Sudah pernah masuk Singapore?" sang penjaga imigrasi mulai mengintrogasi.
"belum" seruku dengan parau karena baru saja bangun tidur.
"Kamu kuliah?"
"ya"
"di mana?"
"Cairo, Al azhar"
"Rukun islam ada berapa?"
mulai dari pertanyaan aneh itu aku mulai memincingkan mata.
"lima" jawabku tegang
"Rukun iman?"
"enam" jawabku mulai tenang, dan merasa si petugas mulai bercanda, tetapi saat aku mulai cengengesan si petugas mulai serius lagi.
"Kenapa masuk singapore?"
"mau jalan jalan pak"
"kemana" si petugas bertanya sambil sesekali memerhatikan pasport dan data file yang ada di komputer bertanya dengan acuh.
"ke marina bay" hanya itu yang aku tahu tempat di Singapore
"kenapa marina bay, di sana tempat judi, nggak ada makanan halal?"
JGEERRRR!!! seperti tersambar petir, aku hanya bisa terdiam saat itu, aku malu dengan bulan penuh barakah, aku malu dengan jilbab ini dan lebih malu kepada Allah SWT, tapi bismillah aku menjawab.
"saya hanya mau melihat Patung singa dan gedung dengan perahu marinne di atasnya"
"singanya udah mati" kali ini si petugas menjawab dengan senyum dan beberapa kali mengecap pasportku.
"Alhamdulillah" ucapku dalam hati.

Keluar dari satasiun KTM, kami segera menuju halte terdekat yang ada di tengah jalan, sambil dalam dalam aku menghirup udara pagi yang segar sekali lagi aku bertahmid.

"Terimakasih Rabb, atas nikmatMu"

Berkali kali ku hirup udara Singapore dalam dalam, kapan lagi aku hidrup udara Negri kecil nan sukses ini, tanpa GPS dan tanpa informasi apapun, kami mencari informasi dengan bertanya sana sini untuk sampai ke marina bay, ada beberapa peta petunjuk jalan terpampang besar di setiap halte bis, setelah bertanya kami menaiki bis bernomor 911 int dengan tujuan MRT,karena untuk sampai ke Marinna bay kita harus menaiki MRT atau kereta bawah tanah, sempat bingung bagaimana cara membeli tiket MRT nya, aku mendekati posko polisi di sana, lalu aku di arahkan ke sebuah mesin yang baru kali itu aku lihat, aku hanya mengantri di barisan orang orang yang hendak memebeli tiket, ku perhatikan seorang bapak paruh baya di depanku bagaimana dia membeli tiket, lalu aku di tunjukan bagaimana cara pembelianya, pertama aku melihat peta yang ada di layar mesin tersebut, aku harus menekan tujuan yang aku maksud aku menekan gambar Marina bay di sana, ada jumlah uang yang harus aku masukan di mesin itu 1.30 dolar singapore atau  Rp.9100, sama halnya 1 dolar singapore Rp.7000 di indonesia,  sebelum aku teruskan cerita pengalaman backpacker sehari ke singapore, aku memberi saran kepada pembaca yang berniat untuk backpaker juga agar tidak mengganggap remeh uang receh, karena di singapore untuk menaiki bus kita harus membayar 1.30 dolar singapore dan jika kita memberikan 2 dolar jangan harap supir bus mempunyai kembalian sebesar 0.70 sen karena semua penumpang  penduduk di negri singapore ini, mempunyai kartu prabayar perbulannya untuk menaiki bus, kembali lagi kecerita perjalananku sesampainya di marina bay aku hanya perlu sedikit berjalan sampai di patung merlion khas negri ini, suasana di sana begitu menarik dan bersih, beberapa toko brand terkenal seperti louis vittion pun begitu megah dan indah disana, sudah puas dengan panorama kota di marinna bay, aku memutuskan untuk ke pusat pembelanjaan yang pas dengan kantong backpacker kami ada beberapa sovenir sovenir singapore dengan harga murah di "Musthafa center" ada beberapa toko terjajar rapih dan jika aku ingin mengatakan daerah sekitar Musthafa center adalah kawasan untuk orang india, karena setiap toko yang berjejer disana adalah toko toko india, ada beberapa restoran juga di sana, restoran india.

Karena sudah memasuki waktu makan siang kami putuskan untuk mencoba berkuliner ria dengan makanan khas india, ada nasi brany yang di pesan saudaraku dan beberapa makanan yang asing di telinga dan makanan tersebut boleh ku sebut lumayan pas dengan selera orang asia sepertiku, tak banyak yang kami kunjungi karena hari mulai sore kami pun memutuskan untuk kembali menaiki MRT yang hanya 100 Meter dari Musthafa center untuk kembali ke stasiun KTM di woodland, perjalanan menggunankan MRT ke woodland tidak sama perti MRT biasanya, tetapi yang berbeda dari penduduk negri ini 90% dari penduduk di negri ini menggunakan handphone Apple atau Samsung ada juga yang menggunakan Ipad semua sibuk dengan peganggan masing masing, walau ada yang hanya duduk terdiam aku perhatikan di telinga mereka ada headset, lalu celetuk saudaraku mengatakan penduduk di sini "AUTIS" mereka sibuk dengan dunia sendiri, bahkan di depan kami ada dua orang saudara kembar hanya diam tanpa saling bicara atau sekedar berbincang, sesekali salah satu dari mereka melihat handphone mereka masing masing acuh tak acuh tak terdengar sedikitpun percakapan di antara kedua saudara kembar di hadapanku, dan saat itu aku, saudaraku dan ayahku hanya ikut diam larut dengan deru MRT yang menembus rel walau perlahan kami simpan harapan untuk segera kembali, karena lelah sudah menyambangi, sesampai kami di stasiun woodland, kami hanya mengikuti arah yang terpampang di atas lorong stasiun itu, sesampai di antrian Imigrasi dalam benak aku berkata.

"Aku segera pulang, negri ini begitu indah dengan manusia yang tekun dan teratur, semoga Indonesia bisa segera maju, lindungi kami Rabb, berkahi negara kami, aamin"

Perjalanan pulang menurutku perjalanan yang menyenangkan karena mendapatkan gerbong tempat tidur, aku berbaring di tempat tidur di kereta ini setelah pengecekan tiket KTM, kurebahkan penat dunia tetap dnegan syukurku tetap dengan doa dan harapanku untuk tanah airku.





Selasa, 26 Juni 2012

Suara hati Al Hadi


“Ilmu yang paling kekal adalah ilmu akhirat, bagaimana Allah SWT menerangkan semua apa yang kalian butuhkan di dalam Al-qur’an, islam memberi pelajaran luas tentang kehidupan, dan dari islam juga selalu di ajarkan bahkan di biasakan menjadi sebenar benarnya manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi sesamanya”.
Kalimat itu jelas sekali terngiang di benaku tapi syeikh yang aku temui siang ini benar benar aku tidak kenal, bahasanya lugas dan mudah di pahami juga tidak memutar mutar dalam menerangkan, tetapi kenapa aku tidak mengingat nama beliau, bahkan wajahnya pun aku tak bisa lihat karena terhalang oleh orang orang yang duduk di depanku, talaqi siang hari ini benar benar padat tidak seperti talaqi biasanya, aku selalu menyempatkan diri untuk talaqi di masjid Azhar, salah satu masjid bersejarah yang ada di Mesir, aku mengikuti  pengajian buku buku turost atau buku kuning langsung dari masyaikh atau yang sering kita sebut syeikh para pakar ilmu agama, bahkan biasanya aku sempatkan duduk di barisan paling depan saat talaqi, semua yang hadir saat itu berjejalan hendak menyalami beliau sesaat setelah pembahasan yang beliau paparkan selesai, aku pun tidak mau kalah untuk menyalami beliau aku masuki kerumunan orang orang di depanku adapula yang mendorongku keluar dari kerumunan dan ada pula yang menarik kerah bajuku dari belakang, aku terus berusaha sampai aku di barisan paling pertama, sesaat itu juga aku terheran hampir tak percaya syeikh yang membuat  orang orang berjejalan untuk menyalaminya  adalah seorang anak kecil yang aku kenal, Ahmad namanya, seperti masih setengah tercengang dan heran aku mengulurkan tanganku dan mengecup tangan mungilnya.

“Astagfirullahal a’dzim….”

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang aneh,  aku beristigfar meminta ampun kepada Allah SWT, mengapa aku bisa bermimpi seperti itu dalam desisku, kulirik jam tanganku sudah pukul delapan pagi, tadi malam setelah sholat malam  dan berjama’ah subuh, aku rebahkan badanku di atas kursi, rasa kantuk yang tidak bisa aku lawan membawaku ke alam mimpi yang tak kuduga, tapi dari mimpi itu aku bertanya dalam hati mengapa Ahmad?, bukankah Ahmad anak laki laki di flat bawah tepat setelah flatku, tak kuhiraukan pertanyaan yang begitu saja hadir di benaku, aku segera mengambil buku diktat kuliahku karena hari ini hari terakhir ujianku di Universitas Azhar, aku segera fokus untuk meneruskan hapalan hapalan  tadi malam, setelah beberapa menit kemudian aku sudah tenggelam didalam huruf huruf arab  di dalam bukuku buku karangan duktur yang sangat aku segani, duktur A’bdul a’dzim duktur kuliah filsafat untuk tingkat akhir, karena ini kesempatan terkahirku untuk mengukir nilai tertinggi di  ijazahku bukan hanya untuk sekedar ijazah tapi untuk mendapatkan ilmu yang lebih tentunya, aku melupakan mimpi buruku tadi dan  mulai mabuk cinta, cinta akan ilmu cinta akan Dzat yang maha sempurna yang selalu kekal, juga untuk membuktikan kepada ayah dan ibuku di tanah air bahwa anak terakhir yang awalnya selalu diragui, karena aku anak terakhir satu satunya yang  menginginkan sekolah agama sedangkan  abang abangku yang  lain sukses menjadi pengusahawan, membuat ayah ibuku ragu bahwa dengan sekolah agama pun aku bisa menjadi orang yang sukses dan terpandang seperti abang abangku  yang lain, tak hanya sukses di dunia tapi sukses akhirat kelak, teringat perkataan mas Anwar abang pertamaku.

“Belajar di pasantren paling paling lo jadi guru musholah, noh kaya pak ustad Zuwarni, lulusan pesantren dia terus ngajar ngaji malemnye, lo mau kaya itu?, udah lo ikut abang masuk SMP favorit lo kan pinter Al”

Perkataan tersebut bukan menjadikan semangatku untuk belajar agama menurun, malahan setelah menyelesaikan pesantren di salah satu pesantren di Jawa Timur, aku meneruskan studiku di Universitas Al-azhar, salah satu Universitas tertua dan melegenda yang telah menghasilkan alumni alumni terbaik, bahkan banyak pemimpin Negara di Indonesia saat ini dari keluaran Universitas Al-azhar, tetapi tak pernah jauh dari cemoohan abang abangku masih mengganggap penerimaan Al-azhar atas diriku tak membawa kebanggaan apa apa pada keluargaku, abang keduaku  yang juga sukses sebagai pengusaha di daerah Jakarta yang mana sekarang ini persaingan sudah semakin ketat, yang lemah tertindas yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat, abangku orang yang tekun dan berambisi kuat juga selalu menjunjung kejujuran dalam setiap pekerjaanya, menjadikanya direktur perusahaan yang cukup besar di Jakarta sampai saat ini, perkataanya di bandara internasional Soekarno hatta juga masih terngiang di telingaku.

“Pulang  kalau nggak dapet kerja bagus, cuma jadi guru Madrasah nanti abang tarik lo di perusahan abang”

Setelah memeluk satu persatu anggota keluarga yang datang mengantar dan melepas kepergianku untuk meneruskan studi di tanah kinanah, sampailah aku di pelukan terakhir pelukan kehangatan yang selalu ia beri, cinta dan air mata keikhlasan yang selalu ia curahkan “Ibu” ya selalu aku mencintainya dan bahkan cintaku selalu bertambah tiap waktu untuknya, ibu yang selalu mendukungku yang selalu melerai perdebatan tak berujung yang di mulai abang abangku dan berangsur ke ayahku, ibu selalu berdiri di pihaku, sampai hari ini aku harus berpisah dengannya, harus jauh dari mata teduhnya jauh darinya membuatku yakin aku harus sukses dan segera kembali, perkataan ibu yang selalu aku ingat aku tulis di dinding kamarku.

“Allah tempat bersandar yang sejati, ia tidak akan menelantarkan hambanya”

Aku terhenti dari lamunan akan tanah air dan keluarga yang aku banggakan, tak terasa saking khidmatnya aku menghapal waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, karena ujianku siang hari, kali ini aku memilih belajar di dalam rumah agar dapat konsentrasi menghapal dan hapalanku tidak buyar, aku terus berjalan dengan diktat yang masih ku pegang erat di tanganku, sembari mengingat ingat hapalan ku turuni anak tangga imarahku  (gedung tempat tinggal) yang sudah terkuak, flat tempat tinggalku tidak jauh dari kampus Al-azhar tepatnya flat kontrakanku bersama beberapa teman teman sedaerah di Jakarta berada di belakang masjid Azhar, aku hanya perlu berjalan kaki sebentar menerusuri jalan kecil di samping masjid Azhar, ada beberapa toko buku dan beberapa toko rempah rempah disana, ada pula toko buah  buahan, serta daging, adzan dzuhur berkumandang segera aku memasuki masjid Azhar untuk sholat berjama’ah aku berdiri di shaf paling depan, agar dapat mendengar doa dari imam dengan jelas, bila hari ujian tiba imam biasanya mengeraskan suaranya saat berdoa setelah sholat dzuhur, dan yang lebih aku rasakan doa yang beliau panjatkan begitu tulus agar anak anak yang menuntut ilmu di beri kemudahan dalam menjawab soal.
Setelah tiga jam berlalu aku tersenyum penuh harapan agar aku bisa membawa nilai baik untuk materi ujian terakhirku, sesampai di depan imarah aku melihat sesosok anak kecil dengan  bola di tanganya.

“ yah ehmed..”……. ”ya ehmed”
Pekiknya dengan suara melengking kepalanya yang tertadah ke atas sepertinya sedang memanggil temanya yang masih di atas.

“ehmed ta’al” (kesini) seruku sambil membungkuk, “enta tai’z tal’ab quroh ma’aya” (mau maen bola denganku?)seruku kepadanya dengan ramah.

Sedang asik asiknya aku bermain bersamanya, tawanya yang ringan dan matanya yang polos membuatku gemas dibuatnya, beberapakali aku sengaja menguasai bola aku putar bulak balik dengan kakiku dan aku hadang dia saat mencoba merebut bola dariku, wanita separuh baya dengan jilbab biru hadir di depan kami, wajahnya yang ayu khas Indonesia membuatku terdiam seketika sesaat dia menghampiri kami.

“ahmad pulang nak, sudah sore” serunya dengan senyum manis.
“ umi….” Ahmad membawa bola dan berlari ke arahnya.

Aku hanya tersenyum kaku sesaat mereka berdua melintas dan segera masuk imarah dan menaiki tangga, dari ke jauhan Ahmad berteriak.

“Om….nanti maen lagi yah”

aku ayunkan tangganku kepada sosok kecil tampan itu tanda setujuku, tak banyak yang aku ketahui akan keluarga Ahmad yang tinggal di bawah Flatku, Ahmad kecil yang jelas tergambar pada mimpiku tadi pagi, entah sebagai pertanda atau bukan yang jelas anak kecil yang ceria itu selalu membuatku tersenyum jika bersamanya, dia tinggal hanya dengan ibunya, aku tak pernah tahu kabar ayahnya hanya selentingan kecil yang ku dengar dari teman teman rumahku bahwa ibu Ahmad janda, ada juga yang mengatakan ibunya seorang TKW yang di tinggal suaminya, bahkan ada yang mengatakan Ibunya TKW yang di aniaya majikanya dan melahirkan anak majikanya, hanya ibu Ahmad dan Allah yang tahu, aku tak pernah pusing atau sekedar perhatian dengan isu isu mengenai keluarga bocah dengan mata polos itu, bahkan kebanyakan kami sebagai mahasiswa Indonesia tak pernah mau perhatian dengan urusan seperti itu, padahal jika di bilang kita sama sama berkenegaraan yang sama tapi entah mengapa kami masih acuh tak acuh, mungkin karena kami di sibukan dengan pelajaran dan buku buku yang berjilid atau sibuk dengan merancang masa depan indah kami sendiri, yang aku sadari bahwa antara kami terdapat tembok yang memisahkan,  bagaimana kami kadang merasa prihatin atau malu sendiri melihat kabar tentang Tenaga kerja Indonesia di Timur tengah, tak jarang tenaga kerja wanita menjadi bulan bulanan kekejaman dari majikanya yang berbangsa Arab, akan tetapi kejadian memilukan tersebut tidak membuat warga Indonesia jera dalam mengirim dan menyuplai tenaga kerja ke Timur tengah, Negara mesir khususnya menjadikan tenaga kerja yang di kirim tidak melalui instasi atau lembaga terkait yang resmi menjadikan tenaga kerja Indonesia menjadi tenaga kerja yang illegal, bahkan Mesir tidak pernah memperbolehkan tenaga kerja Indonesia dengan propesi sebagai PRT atau pekerja rumah tangga, yang legal sebagai tenaga kerja di Mesir hanya tenaga kerja yang propesinya mempunyai bakat atau propesional, seperti pekerja sebagai Home staff KBRI, atau bangsawan Kedutaan Besar Republik Indonesia, atau sebagai Insyirur pertanian, Mekanik, Perdangan, dan sebagainya.

Bagaimana dengan ibu Ahmad desirku dalam hati?, aku berlalu sampai akhirnya di Flat kontrakanku, aku hempaskan tubuhku di atas kasur.

“ keif imtihan  Al”  Tanya Roni teman sekamarku, tentang ujianku tadi siang.
“Alhamdulillah, doanya ron…tadi aku sempet nervous tapi insya allah yang terbaik”
“amin, doain ana jugalah ustadz, ana yakin tinggkat akhir ini antum dapet nilai Mumtazz”
“amin… Ron, syukron yah, kamu jugalah belajar yang rajin, biar cepet lulus”
“iyah nih Al, aku masih mikirin maimunah, nggak bisa belajar dari kemarin” seru roni dengan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“kapan kamu mau insyaf Ron, Maimunah juga kan lagi ujian, klo jodohnya setelah kalian sama sama rampung studi bisa bersatu”
“Itulah Al, masalahnya berbeda sekarang?”

percakapan kami mulai serius yang tadinya aku sembari tidur mendengarnya, aku menarik tubuhku dan duduk di sampingnya.

“kenapa bro…?”
“Gini Al, aku denger katanya maimunah akan dilamar habis ujian ini”

wajah Roni mulai lesu, gadis berdarah minang yang dia taksir sejak lama itu selalu menjadi percakapan hangat kami, tak banyak yang dapat Roni lakukan hanya bisa memendam rasa di dalam hatinya yang sudah tumbuh dan berakar mulai dari dua tahun yang silam.

“baguslah Ron.., berarti waktunya kamu mengikhlaskan dia"
“kamu gimana sih Al, katanya mau dukung, malah menjatuhkan”
“kan kita nggak boleh mengkhitbah wanita yang sudah di khitbah, sama seperti kamu memakan bangkai saudaramu sendiri Ron”
“aku tahu itu, tapi kan maimunah belum dilamar sekarang”
“terus bagaimana? Mau kamu lamar duluan?”
“itu juga tidak mungkin Al, mau kasih makan apa nanti dia setelah jadi Istriku”
“Ron, kamu percaya kan Rizki itu datang dari hal yang tidak terduga”
“aku tahu Al, tapi….bagaimana ayah ibuku juga adik adiku di kampung”
“pernah dengar Ron, tulang rusuk tidak akan tertukar?”

“belum Al, “ balasnya dengan lesu.

“jika dia tulang rusukmu yang sebenar benarnya Ron, dia akan menjadi bagian hidupmu kelak, kau tau Ron, jodoh itu ada 2 datangnya, jodoh yang di hadirkan oleh iblis, atau bisikan iblis untuk meracuni imanmu agar kamu terlena dengan perasaanmu dan melakukan jinah, setelah itu menikah, naudzubillah, yang kedua jodoh dari surga jodoh yang sudah Allah persiapkan untukmu sebelum semua makhluk bumi tercipta, jodohmu sudah ada dan di persatukan oleh Allah dengan jalan dan waktu yang tepat dengan ikatan pernikahan yang mendatangkan surga,Kamu mau terlena dengan perasaan atau mau menyerahkan semuanya kepada Allah?”
“aku selalu meminta kepada Allah Al, bahkan jika memang maimunah bukan jodohku aku meminta agar bisa melupakanya, tapi rasa itu tumbuh malah semakin kuat tiap tahunya Al”
“Ron bagaimana kamu tahu doamu tidak di ijabah, sedang kamu tidak percaya kepada Allah dan masih mendikte Allah dengan apa yang kamu inginkan?, biarkan Allah yang menentukan , ikhlaskan doamu biar Allah yang mengatur jalan hidup dan jodohmu”

“Al, sukron” dia memeluku erat, karna umurku dan Roni hanya terpaut satu tahun, aku menggapnya sebagai teman bukan malah yunior, karna Roni lebih muda dia selalu menganggapku sebagi abangnya.

“Al aku mau Tanya sama kamu?”
“apa?”
“Kamu pernah jatuh hati” aku tersenyum, setelah mendengar perkataanya.

“Pernah” jawabku singkat.

“Kapan saat di sini atau di pasantrenmu yang dulu”
“Disini, saat baru saja pindah ke rumah ini”
“Wah Al, kita berjuang bersama yah, ini ada pesan dari Bang obik untukmu, katanya kalau ujianmu sudah selesai dia mau meminta bantuan di warungnya, karna semua karyawan masih pada ujian, aku ke masjid dulu Al, asslmlkm.”
“Makasih Ron kabarnya, walaikmsslm”.

Bukan kebiasaan yang aneh bagi para mahasiswa di sini, kadang untuk mengisi kekosongan ada beberapa kawan Mahasiswa yang membuat warung makan. Yang bisa di bilang semua karyawan sampai koki dari mahasiswa, dan yang lebih lucu lagi pengunjungnya juga kebanyakan Mahasiswa, usaha warung makan ini yang membuat Bang  Ahmad syaid, atau biasa di panggill bang obik menghidupi  istri dan dua putranya, Bang obik yang masih meneruskan studi s2 nya belum bisa meninggalkan Mesir dan pulang ketanah air, beliau lebih memilih kuliah sambil mengurus warung makanya.
Tanpa  berfikir panjang aku segera turun untuk membantu Bang  Obik, setelah melewati pasar Husein dan memasuki gang jalan Khan kholili tepat di belakang masjid husein ada warung kecil dengan  empat meja dan kursi yang di penuhi mahasiswa dan adapula mahasiswi di sana, warung makan Bang Obik walau sederhana tetapi bersih dan makananya higeinis membuat para mahasiswa tak pernah lewat untuk mampir di warung ini, biasanya setelah ujian atau pulang kuliah mereka mengunjungi warung makan ini, begitu juga aku yang sudah lama berlangganan di sini.

“Asslamualaikum, bang….repot neh?”
“Wa’aliakumssalam, wah kebetulan Al, sudah selesai antum ujian?”
“Alhamdulillah bang”

“gimana? Miyah fil miyah” seru bang Obik dengan tanganya yang memutar mutar mengikuti ciri khas warga mesir, 100 berbanding 100 bahasa yang biasa di pakai warga mesir untuk menilai sesuatu.

“Alhamdulillah, doanya bang”
“Ya rabb, Bantu aku Al, lihat pengunjung tak pernah sepi, si Usep sama Imron masih ujian, i.allah kamis depan selesai”
“siap bang, i.allah ana Bantu”

Pekerjaan sore itu di warung makan Bang Obik, benar benar melelahkan, bagaimana beliau yang datang setiap hari ke sini untuk menghidupi keluarganya benar benar membuatku takjub, tak hanya semangat menuntut ilmu beliau juga semangat mencari nafkah untuk anak istrinya, aku termenung bagaimana aku selama ini hanya mengandalkan uang dari ayah dan ibuku, bahkan tak jarang abang abangku mengirimku lebih hanya untuk sekedar aku pakai makan dan membeli buku.

“Cucian piringnya tinggal aja Al, biar nanti ada yang mencuci”
“Biar bang, Al saja, Al juga bisa”
“Gak usah Al, kamu bersihin meja meja aja di depan, sambil kamu hitung jajanan dan kerupuk yang tersisa”
“Siap bang”

Tidak lama setelah itu ada sesosok wanita manis berdiri di depan pintu warung bang Obik, wanita dengan wajah ayu yang sesekali aku jumpai di pintu gerbang imarah, mungkin karna kita satu gedung kemungkinan berpapasan kami sering membuat wajah itu tak asing lagi aku lihat.

“Asslamulaikum”
“Wa’alaikumussalam”
“Pak ustad Obik ada ustadz”

serunya lembut, ada sesuatu yang aneh dengan diriku suara lembut itu seakan berdesir dalam dadaku, ya rabb.
Aku segera masuk ke dalam dapur “tunggu sebentar mbak”.

“Bang ada yang cari?”

“siapa” serunya heran melihat aku tergopoh dan panik masuk dapur.

“Ibunya Ahmad”

bang obik mengernyitkan dahi, sambil sedikit mengingat siapa Ibu Ahmad yang aku sebutkan kepadanya.

“oh…mbak kinan??” serunya sambil melengos di depanku menemui sesosok wanita manis di depan warung.
“silahkan mbak, masuk cucianya ada didapur”

aku tersentak sedikit penasaran maksud dari perkataan bang Obik kepadanya.

“Bang biar Al saja yang mencuci, biar mbak ini menghitung kerupuk dan jajanan di depan” kata kataku meluncur begitu cepat.

“Jangan ustadz, kalau pekerjaan saya ustadz yang kerjakan, saya mau bawa makan apa untuk Ahmad malam ini”

setelah di jelaskan oleh bang Obik baru aku mengerti, Mbak kinan berkerja menjadi cuci piring di warung bang Obik ini,  untuk mendapatkan beberapa uang dan makanan, setahuku dari dulu, Ibu satu orang anak ini menjadi single parent berkerja untuk menghidupi dirinya dan Ahmad putra satu satunya, aku memasukan satu demi satu tahu isi dan tempe mendoan yang tersisa di piring yang di hidangkan di estalase depan warung, ada beberapa sengaja aku sisihkan untuk di bawa pulang, seisi rumah pasti girang melihat aku pulang membawa makanan, setelah selesai menghitung sisa jajanan dan beberapa bungkus kerupuk yang tersisa di kantong plastik hitam besar, aku menaiki semua kursi ke atas meja menarik sebagian tralis pintu warung, memadamkan lampu tengah dan membiarkan lampu depan sebelum pintu keluar warung tetap menyala, Mbak kinan juga sepertinya sudah selesai mencuci dan Bang Obik yang sedari tadi menghitung pengeluaran dan pemasukan juga sudah selesai siap siap untuk pulang.

“Mbak ini uang titipan gorenganya, dan ini sisa yang tidak terjual”
“terimakasih ustadz, jazakallah”

wanita itu tersenyum manis, kulihat plastik hitam kecil yang diberikan bang Obik kepadanya, mungkin jualanya tidak laku banyak hari ini, bisiku dalam hati.

“Mbak boleh ana beli semua gorenganya?”

“tapi ustad ini..” sebelum perkataanya selesai, aku menjulurkan uang 15 pound mesir, kutarik  plastik kecil di tanganya, dan memastikanya untuk mengambil uang di tanganku, rumahku akan pesta gorengan malam ini cetusku lagi.

“terimakasih ustad”
  
bang Obik segera pamit dan menjabat erat tanganku, beliau adalah orang yang ramah setiap bertemu denganya beliau selalu menjabat tanganku dan kadang memeluku, padahal beliau yang sudah sampai di tamhidi dua, di program pascasarjana untuk s2 di Universitas Al-azhar dan jika Allah mengehendaki tahun depan beliau sudah bisa menulis bahst, atau menulis tesis untuk s2 nya, subhanallah, keuletan dan tekad juang hidup beliau memang luar biasa selain ramah bang Obik juga humoris menjadikan orang orang di sekelilingnya tidak canggung bermuamalah denganya.

“Saya sering di Bantu beliau” cetus wanita di hadapanku, aku tersentak kaget merasa seolah ia mengerti apa yang baru saja aku pikirkan tentang bang Obik.

“mbak mau pulang, mari.. bukankah kita satu gedung?”

dengan nada cepat aku keluarkan kata kata tersebut, baru kali ini aku menyapanya dan mudah mudahan tidak membuatnya tersinggung.

“sukron ustad, mungkin ustad bisa duluan saya mau jemput Ahmad di tukang roti depan pasar husein, tadi saya titipkan Ahmad pada umu Jainab istri tukang roti di sana, assalamu’alaikum”
sembari menundukan kepala, Mbak kinan berlalu dari hadapanku.

Perjalananku dari gang khan kalili menuju rumah malam ini, seperti malam malam sebelumnya, pasar selalu ramai apalagi di musim panas ini, warga Mesir lebih memilih untuk keluar rumah di malam hari, karena di siang hari terik mata hari sangat panas bisa bisa hingga membakar kulit. Selintas sesaat melewati pasar dan ketika berada di depan pasar ada kerumunan orang di sana, semua orang menuju satu titik yang sama, depan toko roti umu Jainab.

“PENCURI KECIL, masih kecil sudah berani mencuri, lihat anakmu Kinan..dia mencuri rotiku” tuduh ibu berperawakan gendut dengan jubah hitam meneriaki wanita yang memeluk anaknya.

“Kau boleh menudunya tapi tidak memukulnya” dengan isak tangis si wanita membela anaknya.

Astagfirullah Ahmad, pekikku dalam hati melihat wanita yang memeluk anaknya itu adalah Mbak Kinan dan Ahmad anak kecil bermata polos yang sering aku ajak bermain bola, aku lihat Ahmad menangis sejadi jadinya bibirnya sudah bersimbah dengan airmata dan darah. Aku segera menghampiri mereka berdua, kerumunan yang asik menonton hanya terdiam dan ada sebagian yang melerai amarah ibu berjubah hitam itu, pasti wanita itu umu Jainab yang diceritakan Mbak kinan pikirku.

“Fi e’h ya madam, ada apa ini madam, apa yang di lakukan wanita dan anaknya, sampai kau marah seperti ini” aku mencoba menanyakanya dengan baik.
  
“Wanita pencuri ini sengaja menitipkan anaknya untuk mencuri roti rotiku” sergahnya dengan kasar.

“Billahi, hadzihil fitnah. Sumpah dengan nama Allah semua itu fitnah” mbak kinan berusaha meyakinkanku.

“Madam kita bisa berbicara dengan baik, bagaimana rasulullah menyelesaikan permasalahan dengan musyawarah bukan dengan kekerasan, biqodri uqulihim, berdakwalah dengan bahasa kaumnya, rosul mengajarkan kita berembuk dan bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan”

“Kau siapa anak muda, bahkan untuk membayar roti yang dan kehormatanku saja kau tidak akan sanggup”

“Aku orang islam, Aku umat nabi Muhammad SAW, aku hamba Alllah sepertimu, bagaimana kau berani membeda bedakan kami sebagai umat islam. Sedangkan Allah tidak pernah membedakan umatnya kecuali iman dan takwanya, aku sembahyang seperti yang kau lakukan madam, dan aku hidup atas islam siapa dirimu yang berani mendzolimi umat Nabimu hanya karna perlakuan seorang anak kecil dan sepotong roti”

Madam yang keras kepala di hadapan kami berusaha di tenangkan oleh orang orang sekitar dan di bawa masuk kedalam toko roti, aku yang melihat Ahmad menangis sejadi jadinya menggendongnya dan segera membawanya kerumah sakit, setelah tenang dari tangisnya Dokter baru bisa membersihkan darah di sekitar bibirnya, harus ada jahitan kata dokter seraya menatapku, aku dan mbak kinan saling berpandangan ada rasa cemas dimatanya yang aku ketahui.

“semua saya serahkan pada anda Dok”

Keputusan yang aku lontarkan mudah mudahan tidak membuat Mbak kinan semakin panik, lagi lagi kami hanya berpandangan, entah kenapa Mbak kinan hanya diam, mungkin Syok dan rasa takutnya masih menghantui batinya, ku temukan rasa itu pada tangan yang ia remas remas gelisah.

“I,allah baik baik saja” bisiku dalam hati, seakan ingin aku mengatakan pada sosok rapuh di samping Ahmad, bahunya masih mengigil, ku serahkan semua padaMU ya Rabb.

Di dalam taksi aku yang menggendong Ahmad di kursi depan hanya terdiam, sekali kali kulirik kaca spion untuk memastikan kondisi wanita yang duduk di kursi belakang, sepanjang jalan tak ada satu katapun yang terucap, bahkan aku perhatikan raut wajah manis itu seperti sedang menahan tangis, wajahnya sayu dan matanya berkaca kaca, setelah sampai di Flat tempat tinggalnya aku rebahkan tubuh mungil Ahmad di atas kasur di satu satunya kamar si rumah tersebut, baru kali ini aku memasuki rumah Mbak Kinan, walau kami bertetangga aku yang hidup di atas Flat mbak kinan benar benar tidak pernah bertamu atau sekedar bersilaturahim denganya, setelah merebahkan dan menyelimuti Ahmad aku segera keluar rumah karena malam yang sudah larut, mbak Kinan mengantarku sampai depan pintu, sebelum menutup pintu dia
tersenyum manis padaku, sekali lagi ada desiran yang aneh di dadaku membuat aku bergegas meninggalkanya dan menaiki tangga.

“ustad”  dia sedikit berteriak memanggilku.

“Ya, mbak..” langsung ku hentikan langkahku.

“sukron, mungkin setelah saya dapat uang saya kembalikan biaya rumah sakit tadi”

“i.allah saya ikhlaskan uang itu mbak untuk membantu Ahmad”

Setelah pecakapan selesai berlangsung, Roni muncul di hadapan kami, lirikanya penuh dengan kecurigaan, segera kutarik lenganya untuk pulang, sesampai di rumah dia menghempaskan tanganku yang menggenggam lenganya.

“Abang, abang apa apaan sih?” teriaknya.

“aku jelaskan nanti Ron, aku lelah sekarang”

“pastilah abang lelah setelah bermain main dengan janda di bawah”

“Jaga omonganmu Ron”

“Abang, abang selama ini ana segani bang, ana jadikan abang panutan tapi ana nggak nyangka abang serendah itu, Roni lihat sendiri abang keluar dari rumah janda itu, ini yang abang bilang tadarus dan tahfidz di Syeikh Asrof malam hari”

“Astagfirullah, Ron tenangin diri kamu, semua nggak seperti yang kamu bayangkan”

“ahhh……MUNAFIK, pantes abang selalu membela janda cantik itu kalau kita sedang menbicarakan dan mengolok ngolok dia sama temen temen”

BRAKKKK!!!!!!!

Pintu kamar tertutup keras, Roni berlalu begitu saja sebelum sempat aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kejadian hari ini benar benar membuat aku letih dan tidak mempunyai tenaga, walau sebatas membela diriku sendiri, kuputuskan untuk berwudhu dan bermunajat pada Illahi, surat Arrahman aku ulang beberapa kali setelah sholat agar hati dan pikiranku tenang, semua aku serahkan pada Illahi Rabbi.



Kulirik berkali kali Visa yang tercetak di Pasportku, setelah pengurusan satu bulan lamanya, bulan Ramdhan nanti aku hendak ke baitullah untuk Umrah, ibu memaksaku untuk bisa Umrah bersama, karena abang abangku dan istrinya juga ayah hendak Umrah, terlebih ibu menyinggung tentang pertunanganku dengan Aprilia, putri dari rekan ayahku  yang anggota salah satu DPRD di Jakarta.

“lagipula kamu kan sudah libur nak” suara jauh disana yang terdengar jelas di telepon genggamku membuatku rindu akanya, Ibu selalu ramah menyapaku.

“Al mau kumpul bu, tapi kan nggak mesti harus dengan Umrah,kalau ibu mau umrah niatkan umrah bukan untuk kumpul bersama, apalagi perjodohan”

“loh Aprilia temanmu dari kecil Al, lagi pula sama saja, abangmu akan bilang nggak ada waktu, kalau ibu nggak bilang Umrahnya untuk kumpul dan perjodohanmu”

Aku tersenyum sendiri.

“Bu, Al kangen sama ibu, ibu sehat sehat yah, nanti Al hubungi lagi assalamualaikum”

“bener ya nak, beli tiketnya di awal ramadhan ini, walaikmsslam”

sebentar lagi ramadhan bisiku dalam hati.

“Bang lo Mumtazz, bang lo mumtaz subhanallah” Rendi salah satu anak  rumahku setelah mengetuk dan langsung membuka pintu, berhambur segera memeluku.

“bener” aku terheran.

“Subhanallah bener bang sumpah deh gue kalau boong, tadi gue dari kuliah, liat nama lo mumtaz”

“Subhanallah”

Aku segera sujud syukur seketika setelah mendengar penjelasanya.

Setelah memastikan ke syu’un kuliah, kantor di kuliah Al-azhar atas nilai dan anugrah yang Allah berikan di perjuangan terakhirku, saat aku lihat namaku yang terpajang di kertas pengumuman, Muhammad AL Hadi bin Muhammad “MUMTAZ” aku segera pulang dengan membeli tiga ayam dan makanan lainya sebagai tasyakuran atas prestasi terakhirku yang memuaskan.

“Makan, makan Mabruk bang Al” sergah Rendi sambil melahap, ayam dan hidangan di depanya.

“Selamat bang, akhirnya Lc juga, doakan gue nyusul bang”  Husein yang tak mau kalah menyelamatiku seraya menyalami tangganku.

“Selamat bang,” Roni masih terlihat ketus semenjak kejadian malam itu, yang sampai saat ini belum aku jelaskan mengapa aku bisa keluar dari rumah mbak kinan selarut itu.

Aku tersenyum padanya, serta memeluknya erat.

“Makasih Ron”.

Selepas shalat tarawih berjama’ah di masjid Azhar seperti biasanya, aku dan teman teman rumahku menetap di masjid untuk membaca Al-qur’an biasanya kami punya jadwal Khatam Al-qur’an sebanyak banyaknya di bulan suci, bulan penuh barakah dimana pintu surga di buka lebar lebar dan pintu neraka ditutup rapat rapat, semua teman teman rumahku semangat untuk beribadah agar mendapatkan pintu berkah di bulan Ramadhan ini, suasana mesir cukup mendukung semangat kami, dengan masyaikh masyaikh masjid Azhar yang berantusias kepada pelajar yang hendak ingin menyetor  hapalan qur’an atau tahsin  setelah shalat tarawih.

“Bang Ramadhan sekarang imam masjid lumayan nggak terlalu lama yah? biasanya imam ngimamin 1 juz 2 jam setengah, malem ini cuma 2 jam bang”
Celetuk Rendi sembari membawa sebotol aqua bermerk DASANI dan memberikanya padaku.

Sepulangnya dari masjid aku mampir kekediaman Bang Obik, setelah tahu kabar dari Roni bang Obik memanggilku untuk berkunjung kerumahnya, seampainya di rumah bang Obik aku rasa kediamanya begitu asri dan sederhana, masih dengan koko dan peci untuk sembahyang aku menemui bang Obik di kediamanya.

“keif hal, gimana kabarmu

“Alhamdulillah bang baik, antum dan sekeluarga bagaimana?

“Alhamdulillah Al, zidan baik huzeif juga baik, uminya juga Alhamdulillah sehat, langsung saja Al, abang nggak mau banyak bicara, sebenernya Uminya zidan yang suruh ana bicara sama kamu”
Umu zidan berarti ibunya zidan, putra sulung bang Obik yaitu istrinya sendiri.

“Ada keperluan apa bang? Ada yang bisa ana Bantu?"

“sebelumnya ana bilang mabruk dulu yang Mumtaz, sudah Lc ente sekarang hehehe…, tawanyanya yang ringan memecah suasana kaku yang aku ciptakan di ruangan itu.

“Ente kenal sama Kinan Nasanti Al?

“Ya bang, Umu Ahmad, yang Flatnya di bawah flat ana” kasus malam itu mungkin yang bang Obik hendak  utarakan, aku simpan rasa penasaranku dan mulai mendengarkan apa yang di bicarakan bang Obik perlahan lahan.

“Begini Al, sebenernya Kinan tidak punya niat untuk menikah lagi, tapi setelah beberapa saat bertemu dengan kamu dia memberanikan diri datang ke Istriku untuk mengkhitbah kamu Al”
perkataan Bang Obik tidak berbelit belit, begitu padat dan berkharismatik.

“Gimana Al, kamu terima Khitbahnya Kinan?

Wanita mengutarakan maksudnya untuk di nikahi laki laki duluan bukanlah hal yang salah, karena khadizah R.A juga melakukan hal yang sama kepada Rosulullah SAW.

“Ana Bang…” aku terdiam lagi tak mampu berkata apa apa.

“Aku serahkan semua keputusan padamu Al, aku dengar dari Kinan kamu akan pergi Umrah, Kinan mengatakan jika memang kamu siap meminangnya, kamu bisa temui keluarganya di Jeddah nanti, setahu ana Kinan punya Paman yang mempunyai toko makanan Indonesia di sana”
Seraya bang Obik memberikan kertas kecil bertuliskan alamat serta nama paman Kinan yang di ceritakan bang Obik tadi.

Aku pulang masih dengan memikirkan pekataan bang Obik tadi, walau tak bisa aku bohongi, pernah ada rasa kecenderungan sekedar simpatik pada wanita santun berparas ayu itu, tapi rasa itu sudah aku pendam dan aku lebur dengan doa pada Allah untuk jodoh sejatiku, apa dia jodohku?
Sedangkan aku juga tidak akan mungkin menolak dan membantah perjodohan yang sudah di rancang oleh kedua orang tuaku, apalagi Ibu yang meminta, aku tahu apa yang menurut ibu baik baginya, tentunya baik bagiku, aku tak ingin mengecewakanya hanya untuk membantah mengikuti nafsuku semata.


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template