cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Selasa, 27 November 2012

koper


Aku hanya terdiam, sesekali ku lirik wajah itu, wajah yang aku pandang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, masih sama, yang berbeda hanyalah kini ada beberapa kerut halus yang mulai nampak di pelipis dan pipinya, Dia, Mamaku. Hari ini hari terakhirku di tanah air, aku harus kembali merantau ke negri antah berantah untuk meneruskan studyku, mama sedang melipat baju baju yang hendak aku bawa, dengan terampil mama memasukan semua kebutuhanku dalam koper hitam yang muat berisikan 30kg barang di dalamnya, teringat pertama kali papa memberikan koper berukuran sedang dengan warna merah bertuliskan "POLO" di depanya, seingatku dahulu, itulah koper pertamaku, koper yang menjadi saksi hidupku dan mendampingiku dalam jelajah kehidupanku, sampai saat ini hampir sepuluh tahun lamanya, aku ditemani tas kotak dengan dengan dua roda sebagai kakinya, menjelajah hidup jauh dari kota kelahiranku, dan jika aku pikir, hampir sepuluh tahun ini pula aku tak sempat menggunakan lemari baju, lemari baju terakhir di rumahku kini kosong tak berisi.

Selepas kelulusan di Sekolah dasar, tangan yang kasar karna beban hidup yang harus di tanggungnya itu melepasku dengan hangat, aku harus berpisah kota denganya untuk pendidikanku, hanya doanya menemani hariku, kadang terdengar tangisnya saat aku menelepon setiap awal bulan, tahun pertama berada jauh denganya, adalah tahun paling berat bagiku, Mamaku selalu menangis jika aku menelefonya, kadang dengan parau aku berkata,

"Mama jangan nangis kalau aku telepon, kalau mama nangis terus, aku nggak akan telepon lagi".

Tetapi ancamanku hanya membuat tangis itu semakin jadi, dan tak jauh berbeda dengan saat ini, hari ini, akupun masih merantau untuk meneruskan pendidikanku, jadwal awal bulan menelfonya, sudah menjadi rutinitasku dalam 120 bulan ini, dan yang lebih berat kali ini, bukan hanya kota atau pulau yang memisahkan aku dan mamaku, tetapi negara yang menjaraki kami, dan lagi lagi aku mendengar isak di sana, saat aku menelefonya, walau kadang mama menutupinya.

Sekali lagi kupandangi tas kotak berkaki roda di depanku, "Koper sampai kapan aku membawamu dalam hidupku?, aku ingin segera pulang" keluhku dalam hati kepadanya,seketika sahabatku memecahkan lamunanku dengan menepuk bahuku,

"ngelamun kamu? ngapain ngeliatin koper?"

Aku hanya tersenyum simpul sembari mengangkat koperku, dan menaruhnya di atas lemari rumah kontrakanku, lantas segera aku duduk di hadapanya, dan beristgfar, tak pantas aku berkeluh kesah atas ni'mat Allah yang di berikan kepadaku, bukankah 200 juta orang di luar sana, tidak semua mendapatkan kesempatan untuk bisa merantau, dan menimba ilmu di negri orang, untuk apa aku risau di saat mamaku selalu menghujaniku doa dan harapan di setiap pilunya berpisah denganku.
Lalu aku memeluk sahabatku yang hanya bingung dengan sikapku, kubisikikan kepadanya "ingatkan aku selalu kawan".

Setiap sedihnya aku menatap koper di atas lemari, jemariku seketika mengadah kelangit, hatiku kupasrahkan lepas dari urusan dunia, dan mulutku serta merta berkata, "Allah jika masih aku di beri kesempatan, berikan aku waktu untuk bisa berbakti kepada kedua orangtuaku, yang dengan tulus mendoakan, dan mengikhlaskan aku jauh dari mereka".

-kairo, musim dingin 2012.-

0 komentar:

Poskan Komentar

apapun yang kalian pikirin comment ja:)

Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template