cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Jumat, 05 April 2013

Ingin maraton tanpa di kejar anjing.

Memulai kembali, hanya ingin bercerita, suatu saat nanti entah kapan, aku yakin tulisan ini akan ku baca ulang, setidaknya untuk mengingat kembali, atau jikalau ingatan ini sudah tak bisa ku putar kemasa silam, tulisan ini yang akan menjaganya.

Sedikit tau, ada perkataan dari orang barat, yang mengatakan bahwa sukses hidup itu berada di tiga hal: 

1. Di saat tua nanti, bercocok tanam, atau mengurusi ladang, pertanian sendiri.
mengapa demikian? karena, saat seseorang di masa tuanya bertani, berarti sudah lepas dari kesulitan kehidupanya, dia hanya menikmati masa tuanya tanpa menjadi pegawai, bos, atau apapun yang tergantung atau di gantungi nasib orang lain.
2. Di saat seseorang sudah bisa menulis biografi dirinya sendiri.
3. Di saat seseorang sudah, mempunyai keturunan.

Tersenyum simpul dengan perkataan di atas, aku bersyukur, karena Allah meanugrahiku ni'mat, yang tiada duanya, yaitu ni'mat Islam, di lahirkan dengan islam, dari berojol sampe sekarang aku islam, bahkan kata kata di atas sebenarnya, sudah aku pelajari sejak KMI (setaraf SMP-SMA), dari hadist Rasulullah SAW, berkata " Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau Anak shaleh yang mendoakannya"
 HR Muslim

Di praktekan oleh imam imam sholih kita, dengan mencari ilmu yang bermanfaat, di pelajari oleh murid muridnya, sampai akhirnya tertulis kemudian biografi sang imam. adapun orang barat pernah mengatakan, dalam tulisanya "We never die", atau "we are imortal", kita tidak akan mati, kita abadi, yang mengatakan bahwa dengan mempunyai keturunan, kita hidup selamanya, karena kita mewariskan 80%-60% gen2 yang kita miliki kepada anak anak kita kelak, dari sifat, wajah, sampai kebiasaan, semuanya menurun kepada anak kita, maka diri kita sendiri tidak akan mati, karena hidup dalam bagian bagian anak kita, dari situ mereka berpendapat bahwa kita akan selalu hidup, dengan pandangan dan pemahaman demikian mengekehkanku, dan sedikit berpikir.

Stop curhat, sekarang mulai bercerita dari judul yang aku tulis diatas, kali ini gaya bahasaku agak monoton,mungkin aku kehilangan selera santaiku, mulai ke arah bahasa kaku, bahasa bahasa yang aku temukan di majalah TEMPO, koran REPUBLIKA, Buku SINDO, sampai buku IPA&IPS Tut wury handayani, yang semua tulisan kadang aku tidak mengerti, mengapa bisa sesangar dan seseram itu mereka menulis?.

Mengapa tidak ada kata santai sejenak, setelah tanda koma, bukankah tanda koma mempunyai arti, berhenti sejenak di saat membaca untuk sekedar bernafas, sampai aku menemukan dunia hitam di atas putih yang menarik bagiku,mudah aku pahami, dan tidak membuatku bosan, yaitu sebuah buku berhalaman putih judulnya aku lupa, yang aku ingat hanya ceritanya, cerita tentang wanita yang mempunyai kepribadian ganda, dari situ aku mulai menyukai membaca buku serial tentang kehidupan, buku selanjutnya juga buku yang marak di perbincangkan saat itu, "A Child called it" karangan Dave pelzer, buku ini menceritakan tentang kehidupan anak kecil yang di siksa oleh kedua orang tua kandungnya,

Dari sana aku menemukan, bahwa tulisan yang menarik bagiku adalah tulisan tentang kehidupan, kehidupan seseorang, siapapun itu pasti menarik, sekali lagi aku mengernyitkan dahi, mencoba memaksakan diri melihat koran Republika, atau koran Jawa pos, dan koran lainya, ku tengok kolom berita pembunuhan, berceritakan inisial S.M.I (seorang PRT), yang akhirnya aku tau nama aslinya sukmi, karena di beritakan di TV, membunuh anak majikanya, bukankah ini cerita tentang kehidupan?, tapi mengapa aku tidak menemukan ada bahasa santai di sana, yang ada hanya metode penulisan menurut ilmu jurnalislah, penulisan yang harus memperhatikan tatanan binomial-lah, Penyebutan autoritaslah, tatanama trinomial-lah, dan lainya yang aku temui dari sedikit membaca buku buku cara menulis, yang sempat aku beli.

Untuk memperjelas aku bukan tidak menyukai, para penulis disana, bukankah mereka menulis dengan ilmu dari bangku perkuliahan dengan pengajar terkemuka, mereka memakai kaidah EYD penulisan bahasa indonesia yang baik pula, berjibaku dengan deadline dan sensorisme (bahasa sendiri, sensor) dari para editor, karena bagiku menulis adalah alasanku untuk bebas, bebas menentukan kata yang ku suka, bebas mau berjelajah kemana saja dengan pikiranku sendiri, bebas menemukan cerita menarik dari kehidupan.

Kini beranjak ke cerita, lima belas tahun silam, badan kecil dan kurus tidak menjadi penghalang bagiku untuk menyukai hari kamis, kaos ungu dengan perpaduan merah tua di sisinya, adalah seragam kebanggaan yang harus aku kenakan ke sekolah hari itu, kala itu kelas kami pindah, bukan di dalam petak ruangan sempit, dengan bangku bangku kayu berjejer rapih di sana, tapi di halaman belakang sekolah, yah hari ini adalah hari olahraga, aku menyukainya tapi tidak dengan teman sebangkuku, namanya Yenyen, dia anak terpintar dan tercantik di sekolahku, tidak tahu anugrah darimana aku bisa menjadi teman sebangkunya, menjadi rangking pertama dan juara umum, bukan hal yang sulit baginya, tapi tidak untuk pelajaran olahraga, seperti dia yang selalu memperlihatkan nilai 10 di setiap kertas ujianya, aku juga mempertunjukan kepadanya, bagaimana aku bisa menyentuh lutut lututku dengan hidungku saat itu, dan aku bisa melompat lebih tinggi darinya, juga bagaimana aku berlari lebih cepat darinya, sampai saat itu, bapak guru olahraga memasukanku ke dalam grup pemain baseball yang rata rata pemainya adalah anak laki laki, dalam hati piciku berkata kepadanya,

"kau lihat aku si rangking 8, tapi rangking selangit di hari kamis"

Itulah kesan lima belas tahun kebelakang, dengan berjalanya tahun, kini ku jejaki kaki, dan mulai tumbuh, bukan anak kecil dengan badan mungil lagi, bukan si krenyit dengan rambut merah dengan urat urat halus yang terlihat di setiap kulit wajah dan tangan lagi. sedikit cerita konon dulu mamaku melahirkanku di bulan ke-enam lebih delapan hari, mungkin jika kelak aku menjadi pejabat kelurahan akan ku tambah keterangan di tanggal dan bulan akte kelahiranku, 6 Agustus dengan lahir kecepetan.

Dunia KMI (setara SMP dan SMA) masa masa baru bagiku, kota berbeda, dengan teman teman yang berbeda pula, aku masih terus menyukai pelajaran olah raga, aku mulai mengenali pelajaran baru selain Basseball, dimana aku harus menggerakan kepala, tangan, dan kaki, dengan gerak gerakan yang sudah di atur dengan sedemikian rupa, agar gerakan gerakan itu bisa di praktekan dan di tiru olehku, semua itu bernama SKJ.

Aku duduk di atas rerumputan, mulai terdiam, sedikit kaget, bahkan bisa di bilang shock bagaimana bisa aku menari dengan gaya robot itu, bahkan gerakan gerakan itu lebih kaku dari tari dangdut, tapi terlalu lincah untuk tari piring, mugkin SKJ lebih simple dari basseball, karena tidak memakan waktu banyak, atau mungkin anak anak perempuan disini pobia bola, tak ada satupun pelajaran olahraga menggunakan alat olahraga, semua terasa terlihat malas hanya memanfaatkan seluruh anggota badan untuk bergoyang goyang bak bebek, dan jika kita tak bergoyang bagian olahraga, siap meniupkan peluit sampai kuping terasa panas, aku benci terjebak dalam keadaan ini, dan bayangkan untuk menselaraskan gerakan tangan dari kanan dulu baru kekiri saja aku tidak bisa, pasti gerakanku berlawanan. tapi aku tak boleh menyerah, sampai akhirnya, aku maju untuk pemilihan senam Porseni, dimana jika aku terpilih aku bisa ikut grup Porseni dan tampil di depan direktur sekolahku saat itu, well done gerakan tak selaras, ayunan tanganku mirip penari ondel ondel dengan kostum norak saat itu cukup membuatku tidak di lirik oleh kakak kelas yang bertugas menyeleksi anggota senam Porseni, kebingunganku membedakan mana yang tangan kiri dan kanan, juga kaki kiri dan kanan membuahkan keputus asaanku.

Dengan tidak mengikuti kursus sore olahraga pada setiap tahun,membuatku terpuruk cukup lama, padahal bisa saja bergabung dengan grup basseball, atau basket, atau bulu tangkis jika aku mau.
lupa dengan olahraga, aku mulai mencari hal menarik lainnya, namanya kini PASKIBRA (pasukan pengibar bendera), aku melihat barisan serempak dengan gagah menapaki tanah, mendongkah ke langit, dan pikirku saat itu, dengan menjadi PASKIBRA aku bisa melatih kebingunganku membedakan kiri dan kanan bisa terjawab, karena setiap kakak kelas Paskib, nama panggilanya, latihan dengan meneriaki arahnya, seperti saat melangkah mereka berteriak,

"Kiri kanan, kiri kanan, kiri".
"aku harus jadi PASKIBRA" desis ku dalam hati.

Tidak mudah persyaratan penyeleksian paskib, itu yang aku terima dari teman, saat aku mengutarakan niat menjadi paskibra, aku hanya bisa duduk di atas rumput, di tempat terakhir kali aku meninggalkan Olahraga, berpikir sejenak dan akhirnya aku harus mencoba, ada waktu setaun sampai aku bisa mengikuti seleksi paskibra, saat itu aku melihat kakak kelas yang melatih paskibra, rata rata  mereka dari bagian Koordinator (bagian kepramukaan di sekolahku saat itu), tanpa pikir panjang aku segera berlari ke gedung Pramuka, di sana aku melihat ada rutinitas yang sama sekali baru aku lihat, dengan cermat kakak kakak kelas di depanku menalikan tongkat panjang dengan tali satu persatu membuat Pionering (salah satu kreatifitas kepramukaan, seperti menalikan tongkat tongkat panjang satu sama lain, dan menjadikanya tiang bendera), aku mulai belajar dunia selanjutnya yaitu PRAMUKA, aktif di Pramuka, menjadi anggota kesayangan di kepramukaan, membuatku terpilih menjadi barisan pembawa bendera, barisan kedua setelah barisan PASKIBRA, dengan tinggi hanya 151cm.

Kebingunganku masih menjalari setiap urat urat tangan dan kakiku, kanan dan kiri masih menjadi teka teki bagiku, sampai akhirnya aku memutuskan, memakai tali sepatu berbeda saat latihan, untuk mengatasi kebingunganku, sepatu kaki kanan dengan tali sepatu berwana merah dan kiri berwarna putih. sempat kakiku di tendang keras kakak pelatih saat, memulai langkah baris berbaris dengan salah kaki, air mata yang bergelantungan di pipi karna tangisku saja tak sempat ku usap, tapi semenjak itu, semenjak aku menjadi anggota barisan pembawa bendera, aku bisa membuktikan pada diriku sendiri, aku bisa melawan kekuranganku, dan aku mampu.

Beranjak dewasa, lupa dengan Olahraga dan ke-Pramukaan, tidak mematok untuk hal apa yang aku bisa, tapi membiarkan diri melakukakan, apa yang bisa aku coba, aku bisa SKJ atau senam semauku, tanpa menyelaraskan gerak kanan kiri ala berti levi di laptopku, aku bisa berolahraga tanpa atau dengan bola semauku, dan juga aku bisa lari pagi menembus dingin pagi, dengan angin yang bercampur debu pastinya. tapi sayang ada kendala, aku terlalu takut kini untuk sekedar lari pagi, karena pagi hari di mesir lebih banyak di penuhi oleh anjing anjing, dan para manusianya lebih memilih berselimbut ria di balik kapuk kasur yang empuk di rumahnya, kadang serasa Ingin maraton tanpa di kejar anjing.

1 komentar:

Seiri Hanako mengatakan...

aku dulu dilarang ikut kegiatan pramukaaa
*sedih*

Poskan Komentar

apapun yang kalian pikirin comment ja:)

Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template