cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Selasa, 26 Juni 2012

Suara hati Al Hadi


“Ilmu yang paling kekal adalah ilmu akhirat, bagaimana Allah SWT menerangkan semua apa yang kalian butuhkan di dalam Al-qur’an, islam memberi pelajaran luas tentang kehidupan, dan dari islam juga selalu di ajarkan bahkan di biasakan menjadi sebenar benarnya manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi sesamanya”.
Kalimat itu jelas sekali terngiang di benaku tapi syeikh yang aku temui siang ini benar benar aku tidak kenal, bahasanya lugas dan mudah di pahami juga tidak memutar mutar dalam menerangkan, tetapi kenapa aku tidak mengingat nama beliau, bahkan wajahnya pun aku tak bisa lihat karena terhalang oleh orang orang yang duduk di depanku, talaqi siang hari ini benar benar padat tidak seperti talaqi biasanya, aku selalu menyempatkan diri untuk talaqi di masjid Azhar, salah satu masjid bersejarah yang ada di Mesir, aku mengikuti  pengajian buku buku turost atau buku kuning langsung dari masyaikh atau yang sering kita sebut syeikh para pakar ilmu agama, bahkan biasanya aku sempatkan duduk di barisan paling depan saat talaqi, semua yang hadir saat itu berjejalan hendak menyalami beliau sesaat setelah pembahasan yang beliau paparkan selesai, aku pun tidak mau kalah untuk menyalami beliau aku masuki kerumunan orang orang di depanku adapula yang mendorongku keluar dari kerumunan dan ada pula yang menarik kerah bajuku dari belakang, aku terus berusaha sampai aku di barisan paling pertama, sesaat itu juga aku terheran hampir tak percaya syeikh yang membuat  orang orang berjejalan untuk menyalaminya  adalah seorang anak kecil yang aku kenal, Ahmad namanya, seperti masih setengah tercengang dan heran aku mengulurkan tanganku dan mengecup tangan mungilnya.

“Astagfirullahal a’dzim….”

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang aneh,  aku beristigfar meminta ampun kepada Allah SWT, mengapa aku bisa bermimpi seperti itu dalam desisku, kulirik jam tanganku sudah pukul delapan pagi, tadi malam setelah sholat malam  dan berjama’ah subuh, aku rebahkan badanku di atas kursi, rasa kantuk yang tidak bisa aku lawan membawaku ke alam mimpi yang tak kuduga, tapi dari mimpi itu aku bertanya dalam hati mengapa Ahmad?, bukankah Ahmad anak laki laki di flat bawah tepat setelah flatku, tak kuhiraukan pertanyaan yang begitu saja hadir di benaku, aku segera mengambil buku diktat kuliahku karena hari ini hari terakhir ujianku di Universitas Azhar, aku segera fokus untuk meneruskan hapalan hapalan  tadi malam, setelah beberapa menit kemudian aku sudah tenggelam didalam huruf huruf arab  di dalam bukuku buku karangan duktur yang sangat aku segani, duktur A’bdul a’dzim duktur kuliah filsafat untuk tingkat akhir, karena ini kesempatan terkahirku untuk mengukir nilai tertinggi di  ijazahku bukan hanya untuk sekedar ijazah tapi untuk mendapatkan ilmu yang lebih tentunya, aku melupakan mimpi buruku tadi dan  mulai mabuk cinta, cinta akan ilmu cinta akan Dzat yang maha sempurna yang selalu kekal, juga untuk membuktikan kepada ayah dan ibuku di tanah air bahwa anak terakhir yang awalnya selalu diragui, karena aku anak terakhir satu satunya yang  menginginkan sekolah agama sedangkan  abang abangku yang  lain sukses menjadi pengusahawan, membuat ayah ibuku ragu bahwa dengan sekolah agama pun aku bisa menjadi orang yang sukses dan terpandang seperti abang abangku  yang lain, tak hanya sukses di dunia tapi sukses akhirat kelak, teringat perkataan mas Anwar abang pertamaku.

“Belajar di pasantren paling paling lo jadi guru musholah, noh kaya pak ustad Zuwarni, lulusan pesantren dia terus ngajar ngaji malemnye, lo mau kaya itu?, udah lo ikut abang masuk SMP favorit lo kan pinter Al”

Perkataan tersebut bukan menjadikan semangatku untuk belajar agama menurun, malahan setelah menyelesaikan pesantren di salah satu pesantren di Jawa Timur, aku meneruskan studiku di Universitas Al-azhar, salah satu Universitas tertua dan melegenda yang telah menghasilkan alumni alumni terbaik, bahkan banyak pemimpin Negara di Indonesia saat ini dari keluaran Universitas Al-azhar, tetapi tak pernah jauh dari cemoohan abang abangku masih mengganggap penerimaan Al-azhar atas diriku tak membawa kebanggaan apa apa pada keluargaku, abang keduaku  yang juga sukses sebagai pengusaha di daerah Jakarta yang mana sekarang ini persaingan sudah semakin ketat, yang lemah tertindas yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat, abangku orang yang tekun dan berambisi kuat juga selalu menjunjung kejujuran dalam setiap pekerjaanya, menjadikanya direktur perusahaan yang cukup besar di Jakarta sampai saat ini, perkataanya di bandara internasional Soekarno hatta juga masih terngiang di telingaku.

“Pulang  kalau nggak dapet kerja bagus, cuma jadi guru Madrasah nanti abang tarik lo di perusahan abang”

Setelah memeluk satu persatu anggota keluarga yang datang mengantar dan melepas kepergianku untuk meneruskan studi di tanah kinanah, sampailah aku di pelukan terakhir pelukan kehangatan yang selalu ia beri, cinta dan air mata keikhlasan yang selalu ia curahkan “Ibu” ya selalu aku mencintainya dan bahkan cintaku selalu bertambah tiap waktu untuknya, ibu yang selalu mendukungku yang selalu melerai perdebatan tak berujung yang di mulai abang abangku dan berangsur ke ayahku, ibu selalu berdiri di pihaku, sampai hari ini aku harus berpisah dengannya, harus jauh dari mata teduhnya jauh darinya membuatku yakin aku harus sukses dan segera kembali, perkataan ibu yang selalu aku ingat aku tulis di dinding kamarku.

“Allah tempat bersandar yang sejati, ia tidak akan menelantarkan hambanya”

Aku terhenti dari lamunan akan tanah air dan keluarga yang aku banggakan, tak terasa saking khidmatnya aku menghapal waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, karena ujianku siang hari, kali ini aku memilih belajar di dalam rumah agar dapat konsentrasi menghapal dan hapalanku tidak buyar, aku terus berjalan dengan diktat yang masih ku pegang erat di tanganku, sembari mengingat ingat hapalan ku turuni anak tangga imarahku  (gedung tempat tinggal) yang sudah terkuak, flat tempat tinggalku tidak jauh dari kampus Al-azhar tepatnya flat kontrakanku bersama beberapa teman teman sedaerah di Jakarta berada di belakang masjid Azhar, aku hanya perlu berjalan kaki sebentar menerusuri jalan kecil di samping masjid Azhar, ada beberapa toko buku dan beberapa toko rempah rempah disana, ada pula toko buah  buahan, serta daging, adzan dzuhur berkumandang segera aku memasuki masjid Azhar untuk sholat berjama’ah aku berdiri di shaf paling depan, agar dapat mendengar doa dari imam dengan jelas, bila hari ujian tiba imam biasanya mengeraskan suaranya saat berdoa setelah sholat dzuhur, dan yang lebih aku rasakan doa yang beliau panjatkan begitu tulus agar anak anak yang menuntut ilmu di beri kemudahan dalam menjawab soal.
Setelah tiga jam berlalu aku tersenyum penuh harapan agar aku bisa membawa nilai baik untuk materi ujian terakhirku, sesampai di depan imarah aku melihat sesosok anak kecil dengan  bola di tanganya.

“ yah ehmed..”……. ”ya ehmed”
Pekiknya dengan suara melengking kepalanya yang tertadah ke atas sepertinya sedang memanggil temanya yang masih di atas.

“ehmed ta’al” (kesini) seruku sambil membungkuk, “enta tai’z tal’ab quroh ma’aya” (mau maen bola denganku?)seruku kepadanya dengan ramah.

Sedang asik asiknya aku bermain bersamanya, tawanya yang ringan dan matanya yang polos membuatku gemas dibuatnya, beberapakali aku sengaja menguasai bola aku putar bulak balik dengan kakiku dan aku hadang dia saat mencoba merebut bola dariku, wanita separuh baya dengan jilbab biru hadir di depan kami, wajahnya yang ayu khas Indonesia membuatku terdiam seketika sesaat dia menghampiri kami.

“ahmad pulang nak, sudah sore” serunya dengan senyum manis.
“ umi….” Ahmad membawa bola dan berlari ke arahnya.

Aku hanya tersenyum kaku sesaat mereka berdua melintas dan segera masuk imarah dan menaiki tangga, dari ke jauhan Ahmad berteriak.

“Om….nanti maen lagi yah”

aku ayunkan tangganku kepada sosok kecil tampan itu tanda setujuku, tak banyak yang aku ketahui akan keluarga Ahmad yang tinggal di bawah Flatku, Ahmad kecil yang jelas tergambar pada mimpiku tadi pagi, entah sebagai pertanda atau bukan yang jelas anak kecil yang ceria itu selalu membuatku tersenyum jika bersamanya, dia tinggal hanya dengan ibunya, aku tak pernah tahu kabar ayahnya hanya selentingan kecil yang ku dengar dari teman teman rumahku bahwa ibu Ahmad janda, ada juga yang mengatakan ibunya seorang TKW yang di tinggal suaminya, bahkan ada yang mengatakan Ibunya TKW yang di aniaya majikanya dan melahirkan anak majikanya, hanya ibu Ahmad dan Allah yang tahu, aku tak pernah pusing atau sekedar perhatian dengan isu isu mengenai keluarga bocah dengan mata polos itu, bahkan kebanyakan kami sebagai mahasiswa Indonesia tak pernah mau perhatian dengan urusan seperti itu, padahal jika di bilang kita sama sama berkenegaraan yang sama tapi entah mengapa kami masih acuh tak acuh, mungkin karena kami di sibukan dengan pelajaran dan buku buku yang berjilid atau sibuk dengan merancang masa depan indah kami sendiri, yang aku sadari bahwa antara kami terdapat tembok yang memisahkan,  bagaimana kami kadang merasa prihatin atau malu sendiri melihat kabar tentang Tenaga kerja Indonesia di Timur tengah, tak jarang tenaga kerja wanita menjadi bulan bulanan kekejaman dari majikanya yang berbangsa Arab, akan tetapi kejadian memilukan tersebut tidak membuat warga Indonesia jera dalam mengirim dan menyuplai tenaga kerja ke Timur tengah, Negara mesir khususnya menjadikan tenaga kerja yang di kirim tidak melalui instasi atau lembaga terkait yang resmi menjadikan tenaga kerja Indonesia menjadi tenaga kerja yang illegal, bahkan Mesir tidak pernah memperbolehkan tenaga kerja Indonesia dengan propesi sebagai PRT atau pekerja rumah tangga, yang legal sebagai tenaga kerja di Mesir hanya tenaga kerja yang propesinya mempunyai bakat atau propesional, seperti pekerja sebagai Home staff KBRI, atau bangsawan Kedutaan Besar Republik Indonesia, atau sebagai Insyirur pertanian, Mekanik, Perdangan, dan sebagainya.

Bagaimana dengan ibu Ahmad desirku dalam hati?, aku berlalu sampai akhirnya di Flat kontrakanku, aku hempaskan tubuhku di atas kasur.

“ keif imtihan  Al”  Tanya Roni teman sekamarku, tentang ujianku tadi siang.
“Alhamdulillah, doanya ron…tadi aku sempet nervous tapi insya allah yang terbaik”
“amin, doain ana jugalah ustadz, ana yakin tinggkat akhir ini antum dapet nilai Mumtazz”
“amin… Ron, syukron yah, kamu jugalah belajar yang rajin, biar cepet lulus”
“iyah nih Al, aku masih mikirin maimunah, nggak bisa belajar dari kemarin” seru roni dengan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“kapan kamu mau insyaf Ron, Maimunah juga kan lagi ujian, klo jodohnya setelah kalian sama sama rampung studi bisa bersatu”
“Itulah Al, masalahnya berbeda sekarang?”

percakapan kami mulai serius yang tadinya aku sembari tidur mendengarnya, aku menarik tubuhku dan duduk di sampingnya.

“kenapa bro…?”
“Gini Al, aku denger katanya maimunah akan dilamar habis ujian ini”

wajah Roni mulai lesu, gadis berdarah minang yang dia taksir sejak lama itu selalu menjadi percakapan hangat kami, tak banyak yang dapat Roni lakukan hanya bisa memendam rasa di dalam hatinya yang sudah tumbuh dan berakar mulai dari dua tahun yang silam.

“baguslah Ron.., berarti waktunya kamu mengikhlaskan dia"
“kamu gimana sih Al, katanya mau dukung, malah menjatuhkan”
“kan kita nggak boleh mengkhitbah wanita yang sudah di khitbah, sama seperti kamu memakan bangkai saudaramu sendiri Ron”
“aku tahu itu, tapi kan maimunah belum dilamar sekarang”
“terus bagaimana? Mau kamu lamar duluan?”
“itu juga tidak mungkin Al, mau kasih makan apa nanti dia setelah jadi Istriku”
“Ron, kamu percaya kan Rizki itu datang dari hal yang tidak terduga”
“aku tahu Al, tapi….bagaimana ayah ibuku juga adik adiku di kampung”
“pernah dengar Ron, tulang rusuk tidak akan tertukar?”

“belum Al, “ balasnya dengan lesu.

“jika dia tulang rusukmu yang sebenar benarnya Ron, dia akan menjadi bagian hidupmu kelak, kau tau Ron, jodoh itu ada 2 datangnya, jodoh yang di hadirkan oleh iblis, atau bisikan iblis untuk meracuni imanmu agar kamu terlena dengan perasaanmu dan melakukan jinah, setelah itu menikah, naudzubillah, yang kedua jodoh dari surga jodoh yang sudah Allah persiapkan untukmu sebelum semua makhluk bumi tercipta, jodohmu sudah ada dan di persatukan oleh Allah dengan jalan dan waktu yang tepat dengan ikatan pernikahan yang mendatangkan surga,Kamu mau terlena dengan perasaan atau mau menyerahkan semuanya kepada Allah?”
“aku selalu meminta kepada Allah Al, bahkan jika memang maimunah bukan jodohku aku meminta agar bisa melupakanya, tapi rasa itu tumbuh malah semakin kuat tiap tahunya Al”
“Ron bagaimana kamu tahu doamu tidak di ijabah, sedang kamu tidak percaya kepada Allah dan masih mendikte Allah dengan apa yang kamu inginkan?, biarkan Allah yang menentukan , ikhlaskan doamu biar Allah yang mengatur jalan hidup dan jodohmu”

“Al, sukron” dia memeluku erat, karna umurku dan Roni hanya terpaut satu tahun, aku menggapnya sebagai teman bukan malah yunior, karna Roni lebih muda dia selalu menganggapku sebagi abangnya.

“Al aku mau Tanya sama kamu?”
“apa?”
“Kamu pernah jatuh hati” aku tersenyum, setelah mendengar perkataanya.

“Pernah” jawabku singkat.

“Kapan saat di sini atau di pasantrenmu yang dulu”
“Disini, saat baru saja pindah ke rumah ini”
“Wah Al, kita berjuang bersama yah, ini ada pesan dari Bang obik untukmu, katanya kalau ujianmu sudah selesai dia mau meminta bantuan di warungnya, karna semua karyawan masih pada ujian, aku ke masjid dulu Al, asslmlkm.”
“Makasih Ron kabarnya, walaikmsslm”.

Bukan kebiasaan yang aneh bagi para mahasiswa di sini, kadang untuk mengisi kekosongan ada beberapa kawan Mahasiswa yang membuat warung makan. Yang bisa di bilang semua karyawan sampai koki dari mahasiswa, dan yang lebih lucu lagi pengunjungnya juga kebanyakan Mahasiswa, usaha warung makan ini yang membuat Bang  Ahmad syaid, atau biasa di panggill bang obik menghidupi  istri dan dua putranya, Bang obik yang masih meneruskan studi s2 nya belum bisa meninggalkan Mesir dan pulang ketanah air, beliau lebih memilih kuliah sambil mengurus warung makanya.
Tanpa  berfikir panjang aku segera turun untuk membantu Bang  Obik, setelah melewati pasar Husein dan memasuki gang jalan Khan kholili tepat di belakang masjid husein ada warung kecil dengan  empat meja dan kursi yang di penuhi mahasiswa dan adapula mahasiswi di sana, warung makan Bang Obik walau sederhana tetapi bersih dan makananya higeinis membuat para mahasiswa tak pernah lewat untuk mampir di warung ini, biasanya setelah ujian atau pulang kuliah mereka mengunjungi warung makan ini, begitu juga aku yang sudah lama berlangganan di sini.

“Asslamualaikum, bang….repot neh?”
“Wa’aliakumssalam, wah kebetulan Al, sudah selesai antum ujian?”
“Alhamdulillah bang”

“gimana? Miyah fil miyah” seru bang Obik dengan tanganya yang memutar mutar mengikuti ciri khas warga mesir, 100 berbanding 100 bahasa yang biasa di pakai warga mesir untuk menilai sesuatu.

“Alhamdulillah, doanya bang”
“Ya rabb, Bantu aku Al, lihat pengunjung tak pernah sepi, si Usep sama Imron masih ujian, i.allah kamis depan selesai”
“siap bang, i.allah ana Bantu”

Pekerjaan sore itu di warung makan Bang Obik, benar benar melelahkan, bagaimana beliau yang datang setiap hari ke sini untuk menghidupi keluarganya benar benar membuatku takjub, tak hanya semangat menuntut ilmu beliau juga semangat mencari nafkah untuk anak istrinya, aku termenung bagaimana aku selama ini hanya mengandalkan uang dari ayah dan ibuku, bahkan tak jarang abang abangku mengirimku lebih hanya untuk sekedar aku pakai makan dan membeli buku.

“Cucian piringnya tinggal aja Al, biar nanti ada yang mencuci”
“Biar bang, Al saja, Al juga bisa”
“Gak usah Al, kamu bersihin meja meja aja di depan, sambil kamu hitung jajanan dan kerupuk yang tersisa”
“Siap bang”

Tidak lama setelah itu ada sesosok wanita manis berdiri di depan pintu warung bang Obik, wanita dengan wajah ayu yang sesekali aku jumpai di pintu gerbang imarah, mungkin karna kita satu gedung kemungkinan berpapasan kami sering membuat wajah itu tak asing lagi aku lihat.

“Asslamulaikum”
“Wa’alaikumussalam”
“Pak ustad Obik ada ustadz”

serunya lembut, ada sesuatu yang aneh dengan diriku suara lembut itu seakan berdesir dalam dadaku, ya rabb.
Aku segera masuk ke dalam dapur “tunggu sebentar mbak”.

“Bang ada yang cari?”

“siapa” serunya heran melihat aku tergopoh dan panik masuk dapur.

“Ibunya Ahmad”

bang obik mengernyitkan dahi, sambil sedikit mengingat siapa Ibu Ahmad yang aku sebutkan kepadanya.

“oh…mbak kinan??” serunya sambil melengos di depanku menemui sesosok wanita manis di depan warung.
“silahkan mbak, masuk cucianya ada didapur”

aku tersentak sedikit penasaran maksud dari perkataan bang Obik kepadanya.

“Bang biar Al saja yang mencuci, biar mbak ini menghitung kerupuk dan jajanan di depan” kata kataku meluncur begitu cepat.

“Jangan ustadz, kalau pekerjaan saya ustadz yang kerjakan, saya mau bawa makan apa untuk Ahmad malam ini”

setelah di jelaskan oleh bang Obik baru aku mengerti, Mbak kinan berkerja menjadi cuci piring di warung bang Obik ini,  untuk mendapatkan beberapa uang dan makanan, setahuku dari dulu, Ibu satu orang anak ini menjadi single parent berkerja untuk menghidupi dirinya dan Ahmad putra satu satunya, aku memasukan satu demi satu tahu isi dan tempe mendoan yang tersisa di piring yang di hidangkan di estalase depan warung, ada beberapa sengaja aku sisihkan untuk di bawa pulang, seisi rumah pasti girang melihat aku pulang membawa makanan, setelah selesai menghitung sisa jajanan dan beberapa bungkus kerupuk yang tersisa di kantong plastik hitam besar, aku menaiki semua kursi ke atas meja menarik sebagian tralis pintu warung, memadamkan lampu tengah dan membiarkan lampu depan sebelum pintu keluar warung tetap menyala, Mbak kinan juga sepertinya sudah selesai mencuci dan Bang Obik yang sedari tadi menghitung pengeluaran dan pemasukan juga sudah selesai siap siap untuk pulang.

“Mbak ini uang titipan gorenganya, dan ini sisa yang tidak terjual”
“terimakasih ustadz, jazakallah”

wanita itu tersenyum manis, kulihat plastik hitam kecil yang diberikan bang Obik kepadanya, mungkin jualanya tidak laku banyak hari ini, bisiku dalam hati.

“Mbak boleh ana beli semua gorenganya?”

“tapi ustad ini..” sebelum perkataanya selesai, aku menjulurkan uang 15 pound mesir, kutarik  plastik kecil di tanganya, dan memastikanya untuk mengambil uang di tanganku, rumahku akan pesta gorengan malam ini cetusku lagi.

“terimakasih ustad”
  
bang Obik segera pamit dan menjabat erat tanganku, beliau adalah orang yang ramah setiap bertemu denganya beliau selalu menjabat tanganku dan kadang memeluku, padahal beliau yang sudah sampai di tamhidi dua, di program pascasarjana untuk s2 di Universitas Al-azhar dan jika Allah mengehendaki tahun depan beliau sudah bisa menulis bahst, atau menulis tesis untuk s2 nya, subhanallah, keuletan dan tekad juang hidup beliau memang luar biasa selain ramah bang Obik juga humoris menjadikan orang orang di sekelilingnya tidak canggung bermuamalah denganya.

“Saya sering di Bantu beliau” cetus wanita di hadapanku, aku tersentak kaget merasa seolah ia mengerti apa yang baru saja aku pikirkan tentang bang Obik.

“mbak mau pulang, mari.. bukankah kita satu gedung?”

dengan nada cepat aku keluarkan kata kata tersebut, baru kali ini aku menyapanya dan mudah mudahan tidak membuatnya tersinggung.

“sukron ustad, mungkin ustad bisa duluan saya mau jemput Ahmad di tukang roti depan pasar husein, tadi saya titipkan Ahmad pada umu Jainab istri tukang roti di sana, assalamu’alaikum”
sembari menundukan kepala, Mbak kinan berlalu dari hadapanku.

Perjalananku dari gang khan kalili menuju rumah malam ini, seperti malam malam sebelumnya, pasar selalu ramai apalagi di musim panas ini, warga Mesir lebih memilih untuk keluar rumah di malam hari, karena di siang hari terik mata hari sangat panas bisa bisa hingga membakar kulit. Selintas sesaat melewati pasar dan ketika berada di depan pasar ada kerumunan orang di sana, semua orang menuju satu titik yang sama, depan toko roti umu Jainab.

“PENCURI KECIL, masih kecil sudah berani mencuri, lihat anakmu Kinan..dia mencuri rotiku” tuduh ibu berperawakan gendut dengan jubah hitam meneriaki wanita yang memeluk anaknya.

“Kau boleh menudunya tapi tidak memukulnya” dengan isak tangis si wanita membela anaknya.

Astagfirullah Ahmad, pekikku dalam hati melihat wanita yang memeluk anaknya itu adalah Mbak Kinan dan Ahmad anak kecil bermata polos yang sering aku ajak bermain bola, aku lihat Ahmad menangis sejadi jadinya bibirnya sudah bersimbah dengan airmata dan darah. Aku segera menghampiri mereka berdua, kerumunan yang asik menonton hanya terdiam dan ada sebagian yang melerai amarah ibu berjubah hitam itu, pasti wanita itu umu Jainab yang diceritakan Mbak kinan pikirku.

“Fi e’h ya madam, ada apa ini madam, apa yang di lakukan wanita dan anaknya, sampai kau marah seperti ini” aku mencoba menanyakanya dengan baik.
  
“Wanita pencuri ini sengaja menitipkan anaknya untuk mencuri roti rotiku” sergahnya dengan kasar.

“Billahi, hadzihil fitnah. Sumpah dengan nama Allah semua itu fitnah” mbak kinan berusaha meyakinkanku.

“Madam kita bisa berbicara dengan baik, bagaimana rasulullah menyelesaikan permasalahan dengan musyawarah bukan dengan kekerasan, biqodri uqulihim, berdakwalah dengan bahasa kaumnya, rosul mengajarkan kita berembuk dan bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan”

“Kau siapa anak muda, bahkan untuk membayar roti yang dan kehormatanku saja kau tidak akan sanggup”

“Aku orang islam, Aku umat nabi Muhammad SAW, aku hamba Alllah sepertimu, bagaimana kau berani membeda bedakan kami sebagai umat islam. Sedangkan Allah tidak pernah membedakan umatnya kecuali iman dan takwanya, aku sembahyang seperti yang kau lakukan madam, dan aku hidup atas islam siapa dirimu yang berani mendzolimi umat Nabimu hanya karna perlakuan seorang anak kecil dan sepotong roti”

Madam yang keras kepala di hadapan kami berusaha di tenangkan oleh orang orang sekitar dan di bawa masuk kedalam toko roti, aku yang melihat Ahmad menangis sejadi jadinya menggendongnya dan segera membawanya kerumah sakit, setelah tenang dari tangisnya Dokter baru bisa membersihkan darah di sekitar bibirnya, harus ada jahitan kata dokter seraya menatapku, aku dan mbak kinan saling berpandangan ada rasa cemas dimatanya yang aku ketahui.

“semua saya serahkan pada anda Dok”

Keputusan yang aku lontarkan mudah mudahan tidak membuat Mbak kinan semakin panik, lagi lagi kami hanya berpandangan, entah kenapa Mbak kinan hanya diam, mungkin Syok dan rasa takutnya masih menghantui batinya, ku temukan rasa itu pada tangan yang ia remas remas gelisah.

“I,allah baik baik saja” bisiku dalam hati, seakan ingin aku mengatakan pada sosok rapuh di samping Ahmad, bahunya masih mengigil, ku serahkan semua padaMU ya Rabb.

Di dalam taksi aku yang menggendong Ahmad di kursi depan hanya terdiam, sekali kali kulirik kaca spion untuk memastikan kondisi wanita yang duduk di kursi belakang, sepanjang jalan tak ada satu katapun yang terucap, bahkan aku perhatikan raut wajah manis itu seperti sedang menahan tangis, wajahnya sayu dan matanya berkaca kaca, setelah sampai di Flat tempat tinggalnya aku rebahkan tubuh mungil Ahmad di atas kasur di satu satunya kamar si rumah tersebut, baru kali ini aku memasuki rumah Mbak Kinan, walau kami bertetangga aku yang hidup di atas Flat mbak kinan benar benar tidak pernah bertamu atau sekedar bersilaturahim denganya, setelah merebahkan dan menyelimuti Ahmad aku segera keluar rumah karena malam yang sudah larut, mbak Kinan mengantarku sampai depan pintu, sebelum menutup pintu dia
tersenyum manis padaku, sekali lagi ada desiran yang aneh di dadaku membuat aku bergegas meninggalkanya dan menaiki tangga.

“ustad”  dia sedikit berteriak memanggilku.

“Ya, mbak..” langsung ku hentikan langkahku.

“sukron, mungkin setelah saya dapat uang saya kembalikan biaya rumah sakit tadi”

“i.allah saya ikhlaskan uang itu mbak untuk membantu Ahmad”

Setelah pecakapan selesai berlangsung, Roni muncul di hadapan kami, lirikanya penuh dengan kecurigaan, segera kutarik lenganya untuk pulang, sesampai di rumah dia menghempaskan tanganku yang menggenggam lenganya.

“Abang, abang apa apaan sih?” teriaknya.

“aku jelaskan nanti Ron, aku lelah sekarang”

“pastilah abang lelah setelah bermain main dengan janda di bawah”

“Jaga omonganmu Ron”

“Abang, abang selama ini ana segani bang, ana jadikan abang panutan tapi ana nggak nyangka abang serendah itu, Roni lihat sendiri abang keluar dari rumah janda itu, ini yang abang bilang tadarus dan tahfidz di Syeikh Asrof malam hari”

“Astagfirullah, Ron tenangin diri kamu, semua nggak seperti yang kamu bayangkan”

“ahhh……MUNAFIK, pantes abang selalu membela janda cantik itu kalau kita sedang menbicarakan dan mengolok ngolok dia sama temen temen”

BRAKKKK!!!!!!!

Pintu kamar tertutup keras, Roni berlalu begitu saja sebelum sempat aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kejadian hari ini benar benar membuat aku letih dan tidak mempunyai tenaga, walau sebatas membela diriku sendiri, kuputuskan untuk berwudhu dan bermunajat pada Illahi, surat Arrahman aku ulang beberapa kali setelah sholat agar hati dan pikiranku tenang, semua aku serahkan pada Illahi Rabbi.



Kulirik berkali kali Visa yang tercetak di Pasportku, setelah pengurusan satu bulan lamanya, bulan Ramdhan nanti aku hendak ke baitullah untuk Umrah, ibu memaksaku untuk bisa Umrah bersama, karena abang abangku dan istrinya juga ayah hendak Umrah, terlebih ibu menyinggung tentang pertunanganku dengan Aprilia, putri dari rekan ayahku  yang anggota salah satu DPRD di Jakarta.

“lagipula kamu kan sudah libur nak” suara jauh disana yang terdengar jelas di telepon genggamku membuatku rindu akanya, Ibu selalu ramah menyapaku.

“Al mau kumpul bu, tapi kan nggak mesti harus dengan Umrah,kalau ibu mau umrah niatkan umrah bukan untuk kumpul bersama, apalagi perjodohan”

“loh Aprilia temanmu dari kecil Al, lagi pula sama saja, abangmu akan bilang nggak ada waktu, kalau ibu nggak bilang Umrahnya untuk kumpul dan perjodohanmu”

Aku tersenyum sendiri.

“Bu, Al kangen sama ibu, ibu sehat sehat yah, nanti Al hubungi lagi assalamualaikum”

“bener ya nak, beli tiketnya di awal ramadhan ini, walaikmsslam”

sebentar lagi ramadhan bisiku dalam hati.

“Bang lo Mumtazz, bang lo mumtaz subhanallah” Rendi salah satu anak  rumahku setelah mengetuk dan langsung membuka pintu, berhambur segera memeluku.

“bener” aku terheran.

“Subhanallah bener bang sumpah deh gue kalau boong, tadi gue dari kuliah, liat nama lo mumtaz”

“Subhanallah”

Aku segera sujud syukur seketika setelah mendengar penjelasanya.

Setelah memastikan ke syu’un kuliah, kantor di kuliah Al-azhar atas nilai dan anugrah yang Allah berikan di perjuangan terakhirku, saat aku lihat namaku yang terpajang di kertas pengumuman, Muhammad AL Hadi bin Muhammad “MUMTAZ” aku segera pulang dengan membeli tiga ayam dan makanan lainya sebagai tasyakuran atas prestasi terakhirku yang memuaskan.

“Makan, makan Mabruk bang Al” sergah Rendi sambil melahap, ayam dan hidangan di depanya.

“Selamat bang, akhirnya Lc juga, doakan gue nyusul bang”  Husein yang tak mau kalah menyelamatiku seraya menyalami tangganku.

“Selamat bang,” Roni masih terlihat ketus semenjak kejadian malam itu, yang sampai saat ini belum aku jelaskan mengapa aku bisa keluar dari rumah mbak kinan selarut itu.

Aku tersenyum padanya, serta memeluknya erat.

“Makasih Ron”.

Selepas shalat tarawih berjama’ah di masjid Azhar seperti biasanya, aku dan teman teman rumahku menetap di masjid untuk membaca Al-qur’an biasanya kami punya jadwal Khatam Al-qur’an sebanyak banyaknya di bulan suci, bulan penuh barakah dimana pintu surga di buka lebar lebar dan pintu neraka ditutup rapat rapat, semua teman teman rumahku semangat untuk beribadah agar mendapatkan pintu berkah di bulan Ramadhan ini, suasana mesir cukup mendukung semangat kami, dengan masyaikh masyaikh masjid Azhar yang berantusias kepada pelajar yang hendak ingin menyetor  hapalan qur’an atau tahsin  setelah shalat tarawih.

“Bang Ramadhan sekarang imam masjid lumayan nggak terlalu lama yah? biasanya imam ngimamin 1 juz 2 jam setengah, malem ini cuma 2 jam bang”
Celetuk Rendi sembari membawa sebotol aqua bermerk DASANI dan memberikanya padaku.

Sepulangnya dari masjid aku mampir kekediaman Bang Obik, setelah tahu kabar dari Roni bang Obik memanggilku untuk berkunjung kerumahnya, seampainya di rumah bang Obik aku rasa kediamanya begitu asri dan sederhana, masih dengan koko dan peci untuk sembahyang aku menemui bang Obik di kediamanya.

“keif hal, gimana kabarmu

“Alhamdulillah bang baik, antum dan sekeluarga bagaimana?

“Alhamdulillah Al, zidan baik huzeif juga baik, uminya juga Alhamdulillah sehat, langsung saja Al, abang nggak mau banyak bicara, sebenernya Uminya zidan yang suruh ana bicara sama kamu”
Umu zidan berarti ibunya zidan, putra sulung bang Obik yaitu istrinya sendiri.

“Ada keperluan apa bang? Ada yang bisa ana Bantu?"

“sebelumnya ana bilang mabruk dulu yang Mumtaz, sudah Lc ente sekarang hehehe…, tawanyanya yang ringan memecah suasana kaku yang aku ciptakan di ruangan itu.

“Ente kenal sama Kinan Nasanti Al?

“Ya bang, Umu Ahmad, yang Flatnya di bawah flat ana” kasus malam itu mungkin yang bang Obik hendak  utarakan, aku simpan rasa penasaranku dan mulai mendengarkan apa yang di bicarakan bang Obik perlahan lahan.

“Begini Al, sebenernya Kinan tidak punya niat untuk menikah lagi, tapi setelah beberapa saat bertemu dengan kamu dia memberanikan diri datang ke Istriku untuk mengkhitbah kamu Al”
perkataan Bang Obik tidak berbelit belit, begitu padat dan berkharismatik.

“Gimana Al, kamu terima Khitbahnya Kinan?

Wanita mengutarakan maksudnya untuk di nikahi laki laki duluan bukanlah hal yang salah, karena khadizah R.A juga melakukan hal yang sama kepada Rosulullah SAW.

“Ana Bang…” aku terdiam lagi tak mampu berkata apa apa.

“Aku serahkan semua keputusan padamu Al, aku dengar dari Kinan kamu akan pergi Umrah, Kinan mengatakan jika memang kamu siap meminangnya, kamu bisa temui keluarganya di Jeddah nanti, setahu ana Kinan punya Paman yang mempunyai toko makanan Indonesia di sana”
Seraya bang Obik memberikan kertas kecil bertuliskan alamat serta nama paman Kinan yang di ceritakan bang Obik tadi.

Aku pulang masih dengan memikirkan pekataan bang Obik tadi, walau tak bisa aku bohongi, pernah ada rasa kecenderungan sekedar simpatik pada wanita santun berparas ayu itu, tapi rasa itu sudah aku pendam dan aku lebur dengan doa pada Allah untuk jodoh sejatiku, apa dia jodohku?
Sedangkan aku juga tidak akan mungkin menolak dan membantah perjodohan yang sudah di rancang oleh kedua orang tuaku, apalagi Ibu yang meminta, aku tahu apa yang menurut ibu baik baginya, tentunya baik bagiku, aku tak ingin mengecewakanya hanya untuk membantah mengikuti nafsuku semata.

0 komentar:

Poskan Komentar

apapun yang kalian pikirin comment ja:)

Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template