cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Kamis, 17 Oktober 2013

cukup satu kepercayaan.

Laki laki paruh baya, di hadapanku mengetuk ngetuk pulpen di buku kecilnya.
"okay.. beristirahatlah maya, setelah kau sembuh aku akan menemuimu lagi".
setelah beranjak dari hadapanku, dia menghampiri ayah dan ibuku. ekspresi yang tak kuduga datang dari ibuku, tiba tiba dia menutup wajahnya dan menangis, ayahku yang berada tepat di sampingnya hanya memegang pundaknya keras.
malam mulai menyapa. hanya ada sedikit pasien di rumah sakit ini, bahkan teman sekamarku, minggu lalu sudah pulang ke rumahnya. membuat rumah sakit ini begitu sepi dan sunyi.
"maya.. tidurlah nak" seru ayahku, dan mulai menarik selimut di ujung kakiku.
"kapan aku pulang? berhenti memperlalukanku sebagai pasien yah, aku baik baik saja"
"maya, sepertinya besok, psikiater akan datang menemuimu"
"apa? jadi ayah tidak percaya padaku?"
"tidurlah nak, ini sudah larut malam. maafkan ayah, tapi kepolisian tadi siang yang mengintrogasimu. mereka menyarankan mendatangkan psikiater kepada kami, dan ini jalan terbaik untuk kasusmu."
emosiku semakin memuncak, kenapa tidak ada yang mempercayaiku. bahkan orang terdekat seperti, ayah dan ibuku tidak mempercayaiku.
berawal mula dari kejadian penculikan yang terjadi padaku, penculikan yang membuat kakiku harus di amputasi. penculikan mengerikan, penculikan yang tidak biasa, yang membuat penyelidikan dari kepolisian bingung, akan kronologi kejadian yang tidak masuk akal bagi mereka.
siang itu, sepulang dari sekolah. karena kehausan sesampainya di rumah, aku segera menyambar kulkas. ketika aku duduk di meja makan. kulihat ada lubang kecil, di mana biasa tikus membuat lubang. lubang itu terlihat kecil di sebelah kulkas.
karena ke usilanku, aku ambil roti panjang di atas meja. dan mencoba menjulurkanya ke lubang kecil itu, lalu ku tarik kembali. yang membuat ku terkejut saat itu, ujung roti yang aku julurkan tadi sudah terpotong. seperti ada yang mengigit.
penasaran menghantuiku kembali. karena lubang itu ada di sebelah kulkas yang terhimpit dinding, dengan susah payah aku julurkan lagi. dan sekali lagi roti itu terpotong. 
aku semakin penasaran. bahkan sekuat tenaga aku dorong kulkas berpintu tiga, yang beratnya dua kali lipat dari berat badanku. sungguh terkejutnya aku saat si kulkas mulai tergeser sedikit, lubang yang ku kira kecil adalah ujung dari lubang besar yang berada di belakang kulkas. lubang itu besarnya cukup untuk aku memasukinya dengan merangkak.
dengan penasaran yang semakin besar bak gunung, dan sedikit ragu juga takut. aku memasuki lubang tersebut lalu "BAMM!!!" seperti ada yang yang memukul di bagian belakang leherku. sekitarku mulai hitam, dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
---
setelah makan siang. ibuku membasuh wajahku, kemudian menyisir rambutku. dia menatap mataku, berusaha menemukan sesuatu di sana. tapi nyatanya ibuku tak menemukan apa apa. hanya ada titik gelap. dia mulai memeluk tanganku, dan menciumnya.
psikiater yang di janjikan, datang ke kamar inapku. aku siap untuk penilaian akhir tentang kondisiku, juga hal yang paling terburuk. mungkin mereka akan mengatakan bahwa aku sakit jiwa.
"hai maya, aku dokter ine, bagaimana keadaanmu? "
"baik dok"
"oke.... kalau kamu baik, berarti ada yang salah pada dirimu"
"katakan padaku, di sini aku akan mendengar semua ceritamu" dokter ine, melepas kaca matanya, menurukan sedikit ranjangku, agar aku bisa duduk dengan sedikit menyandar.
aku memulai ceritaku. seperti apa yang aku ceritakan kepada ayah, ibu, bahkan penyelidik kepolisian.
saat itu. ketika aku tak sadarkan diri. tercium bau yang amat busuk. bau itu membuat semua isi dalam perutku keluar.
ku dapati kakiku susah bergerak. seperti ada tali dengan duri kecil yang mengikat. segera  ku coba untuk melepasnya, tetapi begitu terkejutnya aku. tali pengikat itu bukan tali biasa, seperti ekor yang sedang melilit kakiku. aku berusaha keras melepaskannya, menendang, bahkan menjerit. tiba tiba ada suara "CIITTTTT!!!". tuhan, aku melihat ada gigi, kepala itu. benar benar mirip. TIKUS, dan aku kembali tak sadarkan diri.
si dokter mulai merubah posisi duduknya.
"jadi maksudmu, yang menculikmu adalah seekor tikus?" 
aku mengangguk. tak ada, kecuali rasa tak percaya yang kudapati pada pandangan dokter di depanku.
kuselesaikan segera ceritaku. ketika kembali sadar, seluruh badanku sudah basah kuyup. sepertinya monster di depanku. karena tikus yang menariku, dengan melilitkan ujung ekor kekakiku. tikus dengan ukuran besar, lebih besar dariku. bulunya yang berantakan, perutnya buncit, dan sangat bau. aku sebut dia monster tikus.
monster itu membawaku ke gorong gorong saluran air. aku meraung, rasa takut, jijik menepiskan bau yang kurasa. sampai berapa banyaknya air comberan yang masuk ke mulutpun aku tak peduli. aku ingin segera pulang.
dia berhenti di depan tumpukan sampah. sedikit mengendus dan membuangnya. beberapa sampah botol yang dia buang segera ku raih, pikirku bisa jadi senjata jika dia mulai menyakitiku. lalu dia melempar, kaleng tuna yg masih tertutup. walaupun dia monster, dia tetap hewan yang tak punya pikiran. dari situ aku mulai berpikir, ku ambil kaleng itu, membukanya dan mencoba menyodorkan padanya.
setiap si tikus mendekatiku. ekornya menariku menjauhinya. akhirnya dia melepaskan kakiku, mulai mendekatiku. dan aku melarikan diri. aku merangkak cepat, si tikus mengikutiku. aku hempaskan air kemukanya. sementara dia menepis air di wajahnya aku merangkak secepat mungkin. aku harus menemukan jalan yang lebih terang pikirku.
sampai ujung jalan. seperti ada lubang besar, ada sisi jalan di sebrangnya, karena sitikus mengikutiku, aku loncat bak kodok. sampai tanganku meraih sesuatu, seperti akar pohon.
aku berteriak. tanganku yang basah dan licin, seperti tak mampu lagi menopang tubuhku yang berat. si tikus pun sudah pergi setelah melihat lubang besar di hadapanya.
dan akhirnya "BAMMMM!!!!" aku terjatuh, tenggelam masuk kedalam air, aku sudah pasrah akan hidupku. tetapi di sebelah kananku aku melihat ada cahaya, segera ku berenang kesana. seperti ada pintu gorong gorong dengan kaca disana. aku berusaha menendangnya kuat, akhirnya terbuka. sebelum air masuk lebih banyak, dengan sisa tenaga aku mencoba menutupnya. ku susuri gorong gorong itu, ada cahaya di ujung sana. walau dengan kaki pincang, sepertinya ada benda yang menusuk di sana. ku tak peduli, sampai tak bisa ku membedakan, kepalaku basah karena air atau darah. harapan mulai jelas tergambar, saat ku temui cahaya itu. dari atap gorong gorong yang belubang lubang. aku lihat ada beberapa orang berjalan. aku bisa melihat telapak kaki mereka menginjak gorong gorong itu. aku berteriak, tapi mereka tak bisa mendengar. karena sangat tinggi aku tak bisa menggapainya. ku coba melompat, bahkan merayap. karena bentuk gorong ini bulat dan licin, aku hanya merosot jatuh kebawah lagi.
aku letih, habis dayaku. perut kosong dan kaki yang mulai terasa sangat sakit. aku menghentikan semua upayaku. aku terduduk, dan hanya bisa menangis. hari mulai gelap,   dan tak setetes airpun yang aku dapat, aku kelelahan dan mulai tertidur. sampai akhirnya keajaiban itu datang, ada benda kecil jatuh di keningku. aku tak dapat bergerak kakiku kananku mulai membiru. benda itu cincin dengan berlian besar di atasnya. aku terselamatkan oleh seorang wanita, yang tak sengaja menjatuhkan cicin pernikahanya.
---
Hari ini. aku di perbolehkan pulang, setelah mendapat konseling. beberapa polisi merujuk  pada dokter psikiaterku kemarin. bisa jadi kasusku segera berakhir, dan aku bisa menjalani rutinitasku seperti biasa. 
dengan senyum, ayah menggendongku ke kamar. merebahkanku di atas kasur,  membuka jendela, memberikan krayon warna kesukaanku, setelah itu mengecup keningku.
"jika kau butuh sesuatu, panggil aku" dia mengusap kepalaku, sebelum menutup pintu kembali lagi dia menatapku. aku masih tak percaya, dia menganggap aku berhalusinasi, tentang tikus yang menculiku.
begitu juga, percakapan terakhir aku dengan spikiaterku. aku kira percakapan itu, lebih cocok sebagai sebuah kesepakatan.
"maya.. aku percaya, dengan ceritamu. tapi ini dunia nyata"
"tapi dok"
"begini maya, bagaimana jika kita mengatakan, pada dunia nyata ini. si tikus hanya seorang bandit gendut, yang bersembunyi di gorong gorong saluran pembuangan air. mungkin mereka lebih memahaminya, dan aku akan menjadi orang pertama dan terakhir yang mempercayai cerita ini"
"dok... menurutmu, cerita mana yang lebih menarik. jika aku menceritakan si tikus atau si bandit?"
"tentu saja si tikus, karena cerita itu nyata yang kamu alami"
"terimakasih dok..."
karena umurku masih tiga belas tahun, mereka mengatakan bahwa kejadian yang aku alami hanya imajinasi anak anak saja. berbeda dengan dokter ine, setelah dia pulang. dia memberikan beberapa foto kepadaku. foto itu gorong gorong dimana si tikus membawaku. tidak ada yang lain dari foto itu, tetapi. ada satu foto di samping kanan terlihat gelap. tapi di bagian kanan, tepat di belokan gorong gorong. ada buntut besar setengah menjular. mulai menangis. di dunia nyata ini, setidaknya ada satu orang yang mempercayaiku. walau bukan orang tuaku sendiri. karena satu kepercayaan, aku bisa kembali tersenyum, aku bisa kembali sekolah. jika mereka berkata anak seusiaku selalu berimajinasi, karena gorong gorong gelap, dan rasa takut yang luar biasa, menjadikan seekor cacing saja bisa menjadi naga, kini ku tak peduli, setidaknya tak banyak yang aku butuhkan untuk dunia ini, cukup satu kepercayaan.

0 komentar:

Posting Komentar

apapun yang kalian pikirin comment ja:)

Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template