cenit suryana cuma cewek cengeng yang bisanya cuma nangis...
Photobucket


Kamis, 12 Januari 2012

paket cinta Al Hadi

cerita pendek


Sesuatu yang benar benar menggangu pikiranku saat ini adalah bagaimna aku bisa mendapatkan uang ekstra untuk membayar biaya S2 ku di UIN saat ini, pikiran ini benar benar membuat kepalaku pusing, setelah rampung menyelesaikan S1 di Univ al azhar cairo, aku pulang ke tanah air dan meneruskan studyku di UIN jakarta, keinginan meneruskan study sebenarnya bukan tujuan utamaku setelah tahu ayah pensiun dan kebutuhan keluargaku semakin banyak, adik-adiku yang rata rata masih duduk di SMP dan Aliyah secara menjadi bebanku setelah pensiun ayah, tapi apadaya strata S1 di indonesia walau lulusan Al azhar cairo hanya bisa membawaku menjadi guru bahasa arab di salah satu pasantren kecil di desaku, aku putuskan untuk merantau kembali ke jakarta dengan restu orang tua, aku tinggalkan kampung halamanku ci daun kabupaten cianjur menuju kota metro politan jakarta, ada beberapa kenalan temanku di jakarta dulu kita satu flat di cairo, maya mencarikanku tempat kos kosan dan membantuku menunujkan semua jalan ke tempat yang aku ingin kunjungi, sebelumnya karna di kampungku hanya ada angkot dan ojek kadang aku masih takut jika harus menaiki bus way, tapi apapun yang terjadi bismillah aku menjalaninya dengan rasa iklhas dan berkeyakinan kuat bisa membantuk ekonomi keluargaku.
setelah beberapa hari maya memberikan informasi kepadaku, bahwa ada salah satu sekolah menengah membutuhkan guru bahasa arab, aku coba melamar ke seokan harinya dengan berbekal doa dan berkas berkas syarat yang di ajukan, aku pergi kesalah satu sekolah dengan bangunan berwarna orange dari bangunanya aku menilai sekolah ini sekolah elit sekolah kelas tinggi yang berbasis sekolah agama aku bisa melihatnya dengan tulisan namanya "NURUL FALAH" aku bergumam dalam hati mungkin sekolah ini setara dengan sekolah Stanawiyah yang ada di kota cianjur, aku memasuki gerbang beberapa siswa dan siswi tersenyum dan mengucapkan salam saat melihatku, di tangan mereka buku buku plajaran, ada juga yang bergerombol di ujung taman gerbang sepertinya mereka sedang berdiskusi, kutemukan maidan mujahid di sini semua siswa siswinya ramah dan sopan, seragam merekapun rapih dan syari', aku bertasbih melihat pemandangan ini, aku naiki tangga lebar di bangunan pertama setelah sampai aku melihat karpet terpanjang luas, aku merasa ini bukan bangunan sekolah tapi seperti masjid, ada orang separuh baya duduk di di sana dan dua orang siswi di depanya, aku mengucap salam dan bertanya.

"asslamualaikum, pak maaf saya menggangu boleh saya bertanya, ruang kepa sekolah di mana ya pak?"
"walaikum salam..oh tidak apa2, ruangan direktur di belakang mbak, dari sini mbak kebelakang saja turun tangga lagi ada bangunan di tengah di situ kantor sekolah"
"oh makasih banyak pak, saya kira sekolahanya yang ini, ternyata bukan"
"ya mbak ini masjid untuk anak anak solat, dan ada juga yang belajar di sini, kalau pelajaranya la-qur'an semua siswa dan siswi belajar di masjid, ada keperluan apa mbak sama pak direktur, kalau saya boleh tahu"
"saya mau melamar jadi salah satu guru di sini pak" sahutku dengan senyum kepada bapak paruh baya yang benar benar ramah di depaku.
"oh,,kenalkan saya pak imran salah satu guru di sini juga, mbak silahkan tunggu di kantor saja, mungkin direktur akan datang setengah jam lagi"

Setelah banyak bercerita tentang sekolah aku meninggalkan pak imron menuju bangunan tengah di belakang masjid, sebenarnya rute sekolah tidak rumit, tapi hanya bangunan masjid menjadi bangunan utama setelah gerbang sekolah membuat aku lebih penasaran lagi dengan sekolah ini.

Aku duduk di salah satu bangku panjang di ruang tunggu, aquarium besar dengan ikan warna warni di sana membuatku tak jenuh menunggu, ku keluarkan muhsaf kecil dari tasku ayat ayat illahi menhanyutkanku, sekilas tergambar senyum adik adiku yang ceria membuat diri semakin kuat dan optimis untuk memberikan yang terbaik, aku harus meneruskan studiku untuk mereka dan membantu ekonomi keluargaku.
Azdan dzuhur berkumandang, direktur yang aku tunggu belum sampai juga, rasa kesal sedikit ada dalam diri melihat keterlambatanya direktur dengan sedikit penyayangan akan sekolahnya yang begitu teratur dan baik dengan guru guru yang ramah membuat kekecewaan dalam diriku.
aku melihat siswa siswi keluar dari kelas mereke masing masing menuju masjid, ada dari beberapa mereka berlari karna tak ingin mengantri untuk mendapatkan wudhu pertama, suasana yang tak jauh beda dengan pesantren kebanyakan tapi kini aku menemuinya di sekolah menengah di pusat kota.

Setelah solat berjama'ah aku menyalami salah satu wanita paruh baya yang sepertinya salah satu guru di sini karna beberapa murid menyalaminya.

"asslamualaikum, bu guru di sini" dengan senyuman aku menya wanita dengan mata teduh ini
"walaikum salam neng, yah saya guru di sini"
" kenalkan bu saya yasmin, saya mendengar di sekolah ini membutuhkan guru bahasa arab jadi saya datang kesini, tapi deirektur yang saya tunggu tidak datang datang, kira kira jam berapa bu biasanya direktur datang"
"wah neng direktur biasanya tepat waktu, mungkin ada urusan, mending neng tunggu di ruangan ibu saja yuk nanti ibu antar kalu direktur dudah datang" dengan logat sunda khas ibu imas menawarkan kepadaku
aku balas dengan senyum seraya mengangguk dan mengikuti ibu imas keluar masjid, sesampainya di tangga, ada laki laki berpakaian rapih menggunakan jas sedang menyusung gulungan bener besar di bawah tangga sekilas aku melihatnya dan memalingkan pandanganku ke pada bu imas yang masih sibuk menyapa para guru wanita lainya, karna tak memperhatikan tangga gulungan terkhir terinjak olehku dan si laki laki berdehem keras mengejutkanku, aku beranjak dan bergegas turun di susul oleh si ibu.

Aku memasuki ruang direktur setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya direktur mempersilahkanku masuk ke kantornya.

"silahkan duduk" dengan singkat dan nada ketus sang direktur mempersilahkanku, aku duduk di kursi depan meja besar di hadapanya, sambil mengingat kembali seperti pernahh bertemu dan melihat laki laki rapih dengan kacamata dan rambut klimis di depanku, aku tetuju kepada laki laki di tangga yang menggulung bener tadi setelah solat, dan ternyata dugaanku benar laki laki itu direktur sekolah ini yang ada di hadapanku.
"mbak sudah bawa semua berkas yang saya butuhkan?" tanyanya ketus.
"ya " jawabku singkat menganggukan kepala seraya tersenyum.
" mbak bisa datang besok, saya sudah tahu mbak dari maya"
" oh jadi saya sudah boleh mengajar disini?" tanyaku penasaran.
"tergantung bagaimana siswa dan siswi jika cara mbak mengajar cocok dengan mereka mbak bisa berkerja lama di sini"
"oh terimaksih, saya pamit kalau begitu"sang direktur hanya mengangguk.

kesan pertama dari sekolah NURUL FALAH inii sangat luarbiasa, tetapi dengan kesan direkturnya aku sedikit menggap sang direktur bagai gunung es yang dingin dan angkuh, tetapi semua berjalan lancar saja ketika keesokan hari pertama mengajar pak imran mengarahkan semua bangunan dan juga jadwal kelas dan hari yang tidak bertabrakan dengan kuliahku.
Semua kurasa luar biasa dengan rasa syukur karna pendapatan menjadi guru di sekolah meringankan aku untuk biaya kuliah S2, walau bayaranya berangsur dari setiap semester, belum lagi pendapatanku menjadi guru les dan guru ngaji di musola depan kos an, walau kadang aku tak mendapatkan apa apa sebagai guru ngaji, aku juga membantu bu imas setiap ahad dan kamis karena jadwal yang kosong untuk sekedar mencuci baju dan menyetrika, dengan itu semua aku bisa mengirimkan uang untuk adik adikuu walau tak seberapa di tambah pensiunan bapak cukup untuk keluarga dan adik adiku.
Sampai suatu hari karna lelah aku mengantuk di dalam kelas saat memeriksa pekerjaan rumah murid muridku, dari sebagian mereka tak menghiraukan dan bermain bersama sebayanya, dan ketika direktur mereriksa jalanya belajarnya dari setiap kelas memergokiku menjatuhkan pulpen karna kantuk, aku kaget bukan main dan langsung mengambil cepat pulpen dan mulai memeriksa lagi buku buku muridku.

"silahlkan masuk" jawab direktur ketus setelah aku mengetuk pintunya.
" ada yang bisa saya bantu pak"
"bu yasmi, saya kira anda tahu kenapa saya memangil anda"
"yah maafkan saya pak, saya benar benar minta maaf"
"secapek apapun ibu saya harap ibu bisa menjaga image ibu sebagai guru"
"terimakasih pak"
"ibu boleh keluar"

Teguran direktur benar benar menjadi pelajaran bagiku, berkerja siang hari dan mengerjakan tugas sepanjang malam benar benar membuatku lelah, aku takut di awalnya tapi semua itu demi kebaikanku aku mencoba meperbaiki diri.
Ketika hari rapat setengah bulan untuk membahas triwulan semua guru rapat di kantor pusat, di ruang pertemuan dengan meja panjang serta ada beberapa lembar kertas sudah tersiapkan di sana, ini pertama kalinya aku mengikuti rapat, semua guru sudah berkumpul sampai akhirnya direktur memasuki ruangan rapat, tak banyak yang di katakan hanya beberapa pembenaran cara mengajar dari para guru guru tertentu yang dia kira masih kurang, sampai akhirnya tentangku, pertama tama sang direktur yang dingin dan angkuh menujunkan beberapa hasil tes siswa siswi dari ulangan mingguan yang di adakan oleh guru, beberapa nilai nahwu sharaf yang masih di bawah standar padahal itu adalah basis dari pelajaran bahasa arab, dan juga beberapa judul judul yang menurutnya terlalu sulit di pahami oleh murid, sampai akhirnya membahas saat aku mengantuk di depan murid muridku, wajahku seraya memerah di depan para guru guru aku merasa malu.

"mbak yasmin ini adalah salah satu lulusan luar negri di antara anda anda semua sebagai guru, gelar license di azhar tidak bisa menahan rasa lelah dan kantuknya saat itu, padahal pak imran jurusan tafsir di UIN syarif hidayatullah bisa sepenuh hati memperhatikan anak anak"
"maaf pak direktur saya kurang suka bapak berpandapat seperti itu dengan bu yasmin" pak aldo salah satu guru muda dari LIPIA angkat bicara saat rapat.
"maaf jika saya menyinggung, tapi ini baru terjadi di antara guru guru jadi harus saya kemukakan biar tidak terulang"
" tapi pak saya..." belum selesai mengucapkan kata, pak imran menengahi pak aldo dan mempersilahkan direktur terus bicara.
"aku sudahi rapat sudah setengah jam, bapak ibu guru boleh keluar, meninggalkan laporan maisng masing"

Aku hanya bisa terdiam sesaat keluar ruangan, bu ida guru olah raga untuk siswi perempuan menyapaku dengan senyuman, umurnya tidak jauh dariku bahkan lebih muda, karna guru muda di sini hanya ada tiga yang aku ketahui.

"saya sudah dua tahun mengajar di sini bu, memang direktur jarang di sukai oleh murid murid bahkan guru, saya harap ibu sabar"
"ya da, i.Allah semua untuk saya lebih baik"
"tapi memang direktur kelewatan tadi sama ibu, apalagi mengungkit gelar ibu"
"jangan jadi masalah da, i.allah ada hikmahnya"

hari berganti hari sama seperti biasa aku terus berusa untuk jadi menjadi yang lebih baik, ketika suatu hari di sekolah kantor di penuhi dengan guru guru di sana.

"ada apa bu..?" seruku penasaran.
"jadwal kelas yang buat direktur, sekarang baru"

aku seraya melihat dengan seksama, sampai di jadwal mengajarku yang penuh enam hari kecuali hari jum'at, benar benar membuatku kaget yang selama ini aku hanya mengajar tiga atau empat hari sekarang aku harus masuk kelas tiap harinya, bagaimana dengan murid murid les ku, dan pekerjaanku di bu imas.
dan kau melihat hanya aku yang mempunyai jadwal penuh, aku menghadap pak imran yang biasa membagi jadwal, tapi nihil karna semua yang mengatur adalah direktur, aku mencoba menghadap direktur dengan harapan sang direktur mau memaklumi, tetapi dengan dinginya direktur menggugat dengan nilai siswa dan siswi dari sharaf dan nahwu yang buruk.
Awalnya aku jalani dengan ikhlas dan berusaha, sesampai ada beberapa matakuliah yg kutinggalkan, jadwal les menjadi sore bahkan malam, mengaji tertunda dan baju baju bu imas terpaksa aku cuci ci kos an, minggu pertama yang melelahkan begitu pula minggu kedua sesampainya minggu ke empat, badanku drop dan aku terpaksa meminta pak Aldo dan pak imran menggantikanku, tiga hari panas bdanku tiak turun, maya membawaku kerumah sakit dan harus di rawat inap, aku berusaha keras menolak dan memilih pulang ke cianjur.
________________________________________________________________________________________

aku menangis di hadapan ibukuku dengan sakitku, mereka menjadi sudah belum lagi biaya mantri yang merawatku di rumah benar benar membuatku merasa bersalah.

"neng tong di forsir kalau kerja, kan mamah juga nyuci baju sama bantu bantu agan risma di rumah depan"
"ah mamah terus nanti zakiah sama ibni mau bayar spp kumaha?"
"ga usah di pikir si bapak juga dah ngaret di kebung agan risma, adalah seseranya, udah istirahat"

perkataan ibuku tadi benar benar membuatku malu, selama ini aku di sekolahkan dan di besarkan oleh mereka dengan tulus dan kasih sayang, membuatku merasa menyesal tidak menjaga kesehatan dengan baik, setelah beberapa waktu pak mantri mengatakan bahwa aku sakit typus, dan harus istirahat banyak, pekerjaaku kemabali terbayang dan berputar di benaku, mungkin setelah ini aku harus meninggalkan sekolah dan murid murid yang aku sayangi, bahkan direktur pasti memecatku.
Kuserahkan semua kepada Illahi Rabbi dalam sujud solat malamku aku terisak, apalagi saat membaca Qur'an dan menemui bahwa rezki datang dari sesuatu yang tidak terduga, aku beristigfar memint ampunan usahaku hanya sebatas dunia tanpa memikirkan inti dari bagaimana satu hurufnya yang aku ajari kepada murid muridku adalah hanya untuk kalima Allah SWT dan usahaku bukan hanya untuk kehidupan keluargaku yang membaik, tapi juga untuk meiupkan ruh da'wah sebagai guru utuk murid mudrinya mencintai Allah SWT dan islam.
Aku menangis atas niat yang salah dan aku akan menghadap direktur setelah sembuhku dan apapun yang terjadi aku akan menerimanya dengan ikhlas.
Setelah satu bulan ibu dan bapak baru benar benar mengizinkanku untuk kejakarta lagi meneruskan study dan kerjaku, maya menjemputku di stasiun, aku memeluk erat teman baiku walau keluarganya di bilang kaya tapi dia masih mau emmbantu dan menasehatiku banyak hal, di dalam mobilnya kita berbincang.

"min...lw tau nggak, si hadi nanyain lw"
"hadi? hadi siapa salah satu temen masisir dulu?"
"bukan, sodara gw, raden al hadi, direktur sekolah tempat lw ngajar"
"oh...terus ente bilang apa"
"bilang seadanya, hehehe..." dengan nyengir kuda khasnya. kayanya dia perhatian ma lw"
"ah ente mah, dari dlu kalau ada masisir yang nanya bilang begitu, tapi nggak ada yang yang nemuin ortu tuh"

Pembicaraanku dengan teman baiku benar benar membuang rasa gugup yang akan aku hadapi saat menghadap direktur saat itu, bahkan aku baru mengetahui ternyata direktur bernama Hadi, dari percakapan kami Hadi saudara maya dari ayahnya, dari kecil Hadi di tinggal orangtuanya karna kecelakan, mungkin itu yang menyebabkan dia dingin dan angkuh, sekolah yang dulu di kelola oleh kakek dan di ketuai selanjutnya oleh ayahnya di kelola oleh ayah maya sesampai Hadi merampungkan kuliahnya di Malaysia di salah satu Univ negri IUIAM malaya, dengan kecerdasanya membuatnya mampu menembus beasiswa dari IUIAM ke inggris, tapi tak bertahan lama Hadi lebih memilih IUIAM sampai selesai S1 nya.
aku memasuki ruangan yang serasa jika di dalamnya aku berada di ruang sidang sebai terdakwa, dinding dinding putihnya serasa dingin lebih dingin dari orang yang menempati ruangan itu.

"asslamualaikum pak" sapaku ramah.
"waalaikumssalam, silahkan duduk"
"maaf pak saya baru datang sekarang satu bulan yang lalu saya..." belum selesai sang direktur sudah menyodorkan buku sampul hijau.
"ini buku ajaran baru, oiah mabk nggak punya hape"
"maaf pak maksudnya?"
"mhh,,,zaman sekarang kan hape sudah jadi kebutuhan, kenapa mbak belum punya, saya minta dengan maya dia bilang nggak ada"
"oh hape pak, saya punya tapi rusak, kadang hidupnya klo saya pukul pukul dlu" seraya mengeluarkan hape ikan hiu, teman teman yang menyebutnya seperti itu karna bentuknya dengan antena di atasnya seperti sirip ikan hiu.
"kenapa nggak beli baru, gaji mbak kurang"
"cukup pak"
"terus kenapa nggak beli"
"mhhh,,,,nunggu di belikan suami pak" itu alasan yang tepat menurutku karna tak ingin mengiba kan diri dengan keadaan bahwa semua penghasilan aku sisihkan untuk kuliah dan adik adiku.
"saya nggak mau banyak ikut campur tentang urusan kamu yasmin, tapi bener kamu kuliah?"
baru kali ini mister hitler memangil namaku dan juga memangil kamu, kebanyakan semua guru di pangil bu pak atau anda, tapi semua tak mau membuatku berprasangka aneh mungkin dia ingin beramah htamah saat menanyai hal pribadi.
"ya pak"
"oke saya buat jadwal saat kuliah kosong"
"terimakasih pak, saya mohon diri"
______________________________________________________________________________________

Aku terpaksa ke wartel karna hapeku benar benar mati, bahkan saat ada kabar dari rumah mengatakan ibu menyuruhku menelepon maya yang menyampaikan ke kos an, aku menelepon hape agan risma depan rumah, juragan beras tajir di kampungku untuk di sambungkan ke pada ibuku.

"neng besok pulang yah"
"ada apa mah?"
"eh besok pulang yah, kan udah liburan pan nya?"
"mamah tau dari mana?, tapi yasmin mau cari seseran dulu lumyan untuk ibni, mau beli hape katanya"
"nggak usah pokonya pulang"

Setelah pembicaraan di putus rasa penasaran menghantui, mungkin ada hal penting sehingga mamah benar benar menyuruhku pulang.
Sesampainya di cianjur saat mau tidur malam mamah mendekatiku.

"neng kamu di lamar sama orang, kasep soleh deui"
"siapa mah?"
"jawab dulu mau nggak?"
"siapa dulu?"
"ya sok jawab dulu atuh"
"yasmin masih mau sekolah mah, masih mau kerja biayain ibni sama zakiyah sampai lulus kuliah"'
"bapak ama mamah udah cukup biayain mereka, bapak ngangsur motor ka aga risma, buat ngojek, pensiunan sama mamah kerja nyuci cukup"
ku peluk erat tangan kurusnya, karna mencuci banyak membuat kasar tanganya semakin aku ragu untuk melepasnya.
"min mau mah asal tetep kerja, buat sekedar ngasih ngeringanin"
"neng, kamu harus peduli sama diri kamu, sekarang tidur besok orangnya datang lagi"
"emang udah datang?"
"hus,,,udah ah nanya wae, supres pokona mah".
aku tertawa geli mendengar kalimat akhir mamah, apakah benar benar aku harus menikah?

Keesokan harinya semua keluarga berkumpul. semua benar benar memakai baju rapih walau buakn baru mungkin baju lebaran setahun yang lalu, dan mamah menyuruhku memakai baju sebagus mungkin, walau kadang aku masih merasa acuh karna untuk apa, tapi ku patuhi mereka.
Rombongan keluarga yang mamah bilang hendak melamar datang, sedan kia dan di susul oleh merzedes benz terparkir di depan rumah.
Salah satu yang keluar dari mobil pertama adalah maya, aku kaget sekaligus senang mungkin dia datang karna tahu akan ada lamaran dan dia mau menyaksikan, setalah beberapa saat ayah dan ibu maya juga datang, di mobil mersedez benz keluar lakii laki dengan pakaian rapih koko berkaca mata dan berambut klimis, dia Raden al Hadi.
semua membuatku kaget dan penasaran, mengapa tiba tiba mister hitler mengunjungi dan melamarku, tak banyak yang di bicarakan keluargaku, hanya sebatas silaturahmi dan pertanyaan terakhir tertuju kepadaku, aku hanya diam dan semua yang ada berhamdallah.

Setelah lamaran keluarga Hadi kembali ke jakarta begitu pula maya, tidak ada yang berubah hanya ada cicin pengikat sampai tanggal pernikahan sekitar empat bulan setelah ini baru akan di laksanakan, mamah melarangku pergi ke jakarta pihak dan beliau juga sudah meminta cuti untuk kuliah dan pekerjaanku, aku di sibukan di sibukan persiapan keluarga, sedangkan aku di sibukan dengan persiapan diri, mulai dari selalu mendirikan shalat malam,puasa sunah, dan membaca qur'an menambah hapalan dan pergi mengaji ke ustad ustda pesantren.
Sampai suatu malam dalam solat aku menangis kencang, tak tahu apa yang terjadi, mamah menghampiri.

"neng kenapa,?"
"nggak apa apa mah"
"mamah tahu kamu masih ragu, karna ini semua pilihan mamah dan bapak kamu nggak bisa nolak"
"nggak mah...aku anak yang belum bisa memberikan apa apa sama mamah sama bapak, sebentar lagi pergi dari sini, apa yang min perbuat"
"neng kamu bahagia aja cukup sayang"
air mataku dan mama sama sama mengalir dan kami khataman qur'an bersama.

Keesokan harinya ada surat dari kota datang ke rumah agan risma, yang katanya sudah seminggu mengendap di kantor kelurahan karna terpencilnya desa dan kampung kami sehingga surat tak kunjung datang, ternyata surat dari Hadi untuku.

__________________

kepada wanita shalihah.

asslamualaikum.wr.wb
semoga kamu dan keluarga di beri kesehatan.

dari surat ini aku Hadi, tidak ingin membuatmu berperasangka buruk, hanya agar kamu tahu aku dan aku juga tahu kamu.
aku di besarkan dari keluarga yang basis agamanya kurang, orang tuaku tiada sewaktu umurku 7 thn karna kecelakaan pesawat.
semua membuatku terpukul, pamanku (ayah maya) merawatku dengan kasih sayang, bahkan mendidiku dengan agama yang kuat, aku menyelesaikan sd, smp, dan sma ku secara intensif 9 tahun saat study di malaysia aku di sibukan dengan pendidikan umum dengan kecerdasanku aku menembus beasiswa di inggris, membuatku lupa landasan yang di perkokoh paman yaitu agama, aku pulang kembali ke indonesia berguru dengan salah satu ustadz menghatamkan hafalan qur'anku selama tiga bulan, aku bukan orang pintar tapi kecerdasan yang di karuniai oleh Allah ku manfaatkan agar tak terjerumus pada tempat yang salah, aku meminta maaf padamu pernah menyakitimu dengan kata kataku dulu, sebelum kejadian itu terjadi maya datang kerumah bersama paman menanyaimu seolah kita berdekatan, tapi tak satu soalpun aku jawab, aku tahu kamu selalu menjaga iffahmu sebagai wanita sholiha, dari semua guru mengatakan kamu orang baik.
Dahulu sebelum ayah meninggal, rekan kerjanya telah menjodohkan aku dengan seorang wanita yang kini menjadi model, namanya Affira. setelah dia tahu sifatku dia mengatakan pada keluarganya untuk membatalkan pertunangan, aku belum bisa mencari jodohku yang awalnya aku ingin membuat Affira berkerudung dan solehah sepertimu, sampai ustadz menasehatiku untuk memilih wanita yang solehah dari pada wanita yang lainya, aku hanya teringat kamu Yasmin azahra dan mudah mudahan awal keterbukaan mengobati keterganjilan jawaban atas khitbahku kepadamu terjawab, aku harap kamu tidak menangis lagi.
_________________

setalah menjawab surat Hadi aku mulai tenang menghadapi persiapan pernikahan, dari suratnya sepertinya dia mengetahui apa yang aku rasakan padahal aku tak pernah memberi tahukan apa apa tentang perasaanku, setelah aku sadar saat minggu minggu terakhir ini maya sellau mengunjungiku, kunjungan yang terkhir setelah memberikan cetakan undangan dia menginap di rumah saat itu, tetapi aku menangis saat dia terlelap tapi apapun itu aku besyukur telah terjawab apa yang aku ragukan selama ini.

Hari pernikahan yang mengharukan dan melelahkan kebanyakan keluarga dan kerabat datang dari pihaku setelah ini aku mengetahui bahwa Hadi Suamiku benar benar berada dalam jumlah keluarga yang minim, gumamku dalam hati akan ku berikan keturunan yang banyak untukmu dan memperbanyak Nasab keluargamu, sampai akhirnya aku harus meninggalkan kedua orang tuaku dan pergi ke jakarta, Mamah dan Bapak melepasku dengan senyuman.
Di dalam mobil Suamiku tak banyak yang aku bicarakan sesekali memandangnya dan tersenyum.

"Bidadariku..." gumamnya di sela menyetir mobil.
"hah?" aku sedikit tak mendengar.
"seatbeltnya di pake yasmin"
aku manyun di buatnya.

Sesampainya di jakarta di satu bangunan asri di sana ada taman kecil yang indah, bangunan klasik dengan tembok putih dan pagar yang menjulang tinggi, rumah kami.
rumah di depanku sederhana tetapi melebar, beda dengan bangunan rumah elite kebanyakan yang menjulang ke atas tetapi rumah kita melebar.

"mhh...ini..."
"yah ini rumah kita, aku baru pindah dua bulan yang lalu, rumahku yang dulu sudah tua"
"kenapa harus pindah kita kan tetep bisa tinggal di sana"
"mhhh...aku ingin anak yang banyak darimu jadi rumahnya harus besar"

sesaat barang barang di turunkan aku mulai merasa gugup saat isi koperku di buka olehnya, seolah emngerti dia berhenti membukanya dan menyerahkanya langsung padaku dan meninggalkanku sendiri dalam kamar, adzan isya berkumandang.

"neng abang ke masjid dulu yah, terusin aja rapih rapihnya"
panggilanya neng membuat nafasku kembang kempis seraya menjawab dengan gagu
"ii,,ya bbang"

Aku segera mengumpulkan kekuatanku untuk mempersiapkan malam bersejarah kita, muslimah juga harus cerdas, tak ada pakaian tidur istimewa yang aku punya, aku mengeluarkan baju tidurnya dan memakainya, aku pernah mendengar dari salah satu temanku dulu yang sudah belkrluarga laki laki suka jika melihat perempuanya memakai pakaian tidur suaminya.
Aku rapihkan tempat tidur dan menyemprotkan beberapa minya wangi melati di sela sela seprainya.

Sesaat suamiku datang aku gugup duduk di depan meja rias dan merapihkan rambutku, suamiku membuka pintu seraya berkata.

"subhanalllah sayang, kamu salah satu bidadari yang tercantik yang pernah aku lihat"
aku tersipu malu dan menegguk setengah gelas susu dan memberikan setengahnya kepadanya, dia hanya diam tak bergumam mengambil gelas dari jariku dan mulai meminumnya setelah beberapa menit pikiranya yang tingkat kecerdasan IQ tinggi merosot menjadi rendah, karna susu menetralisirkan racun IQ nya kembali lagi dan mulai menngodaku.
Setelah beberapa saat aku meminta maaf padanya bahwa aku harus menundah malam indah bersamanya karena alasan syari' dari kebiasaan wanita setiap bulan pada umumnya, dia mengerti hanya mengecup keningku dan memeluku erat.

"kita masak aja yuk neng,,,abang lapar"
"oke"

dapur yang besar membuat kami leluasa mempersiapkan makan malam, aku sebagai koki dan dia membantuku menyiapka segala sesuatu.

"eh maaf di kira tomat, abisnya sama sih merahnya"

candanya seaat tiba tiba memegang pipiku dan mengatakan itu tomat.
Makan malam terindah yang aku rasakan bersama imam kehidupanku, walau kurasa Hadi dingin dan angkuh tetapi dia penyayang dan humoris pada dasarnya membuat tunas tunas cinta mulai tumbuh padaku, ku iringkan doa Ya Allah bebrikanlah paket berisi cinta untuku, dan paket cintaku untuk suamiku agar dapat membangun keluarga sakinah mawadah warrrahmah, dan dapat beribadah hanya kepadamu, dan mempunyai keturunan yang baik juga selalu berdahwah di jalanmu.
Setelah makan, dia mengeluarkan laptopnya dan mulai mengerjakan tugasnya aku yang menatapnya bosan sampai tertuju mataku pada gitar di ujung kamar, aku mengambilnya dan membuka jendela kamar lebar lebar, duduk dengan posisi memegang gitar.

"bang aku nyanyi yah buat abang"
"boleh neng yang merdu yah, jangan doel fales iwan sumbang"
"kebalik kali bang"
sebelum nyanyianku selesai suamiku memotong nyanyianku.
"neng mang nggak dingin cuma pake baju itu, pake kerudungnya sana nanti orang jalan liat neng duduk di jendela"
tanpa mengelak aku mengenakan hijab panjangku dan teruskan nyanyianku.
"lihatlah wanita yang berkobar kerudungnya di sana adalah istriku, bidadari yang ku cintai yang di turunkan untuk menyempurnakan islamku"
mendengarkan perkataan suamiku aku mulai bertahmid memuji Allah atas karunia paket cinta dariku yang telah sampai kepadanya dengan alamat yang jelas kutuliskan di agar tidak salah alamat (bukan ayu ting ting hooo...intermezo) dan paket cinta darinya untuku sudah tumbuh bahkan mengakar.



bersambug part 2




0 komentar:

Posting Komentar

apapun yang kalian pikirin comment ja:)

Ada kesalahan di dalam gadget ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Bukan ikan asin biasa Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template